24 jam vs guru kontrak yad

dear all,

menarik tanggapan mengajar  24 jam, di milis dikmenjur, sekedar informasi saja, di china berkembang pemikiran dan sedang dilakukan secara bertahap, bahwa guru di rubah menjadi kontrak, jadi tidak ada pegawai negeri utk jabatan guru…
sehingga selalu di evaluasi setiap waktu performance nya bagus? lulusannya bagus atau tidak dll. klo suatu saat di indonesia dilakukan kearah sana menurut anda bgmn?

sehingga semua guru atau dosen adalah kontrak kepada institusi yg memperkerjakan…dan institusi tersebut menerima bog = bantuan operasi guru atau bgg = bantuan gaji guru..:), sehingga tidak ada guru pns atau guru swasta, semua mendapat hak yg sama, dan indikator kinerjanya juga makin jelas…

selain itu setiap mata diklat , bisa di uji secara nasional secara online, dan bila siswa/pesertanya lulus 70 % maka akan di nyatakan lulus dari mata diklat tersebut….seperti yg dilakukan oleh industri jaringan-cisco atau bahasa toefl atau toiec..

standar akan sama utk kelulusan…dan disparitas pendidikan di indonesia bisa dikurangi…, dan mereka yg terbaik dan baik pengajarannya di sekolah tersebut akan cepat lulus …akan terjadi motivasi yg tinggi dan kelulusan yg cepat…tetapi akan terjadi sedikit kekacauan thd sistem yg sdh ada……:).. 

saran..? tolong tuliskan di bawah ini, terimakasih

Iklan

45 Tanggapan

  1. Maaf,

    Jika tujuannya untuk memperbaiki mutu pendidikan, maka kepala sekolah yg mau keliling lingkungannya tiap hari saja sudah signifikan hasilnya.

    Mungkin sistem di Baden-Wuerttemberg bukan yg terbaik. Tapi mereka menggunakan penilaian ala perusahaan, Mitarbeitergespraech….
    Sementara guru yg ada masih guru tidak tetap dan beamten. Problem muncul ketika konjunktur bagus, orang ga mau lagi jadi guru, karena kerja di firma lebih menjanjikan…

  2. maaf pak gatot,
    barangkali sistem pemerintahanya disamakan dulu dengan cina, yg saya maksud bukan idiologinya lho? bisa gak merubah sistem yg ada? tuh di DPR aja banyak tikus-tikus lho pak, apalagi di daerah pak, seperti raja-raja kecil. Mau jadi bupati butuh dana berapa coba pak? ratusan juta lho pak? tidak mungkin cukup 500 rb udah bisa jadi, yg muaranya tentunya ada efek-efek lain. Kami tentu dukung sepenuhnya sistem yg terbaik bagi bangsa ini, terutama di dunia pendidikan.

  3. guru kalau di ibaratkan sebagai pelatih misalnya pelatih sepak bola pasti bisa membentuk tim kesebelasan yang solid dan unggul dan menjadi juara . Sebagai contoh sang wawan dharmawan ketika di kontrak di jayapura yang nota bene dia anggap daerah tertinggal berhasil mengantarkan tim mutiara hitam menjadi juara satu ligina dan copa . Dan ketika pindah melatih di sriwijaya jadi juara dobel ..

    Tetapi untuk melatih sumber daya manusia tidak mungkin di gunakan sistim guru kontrak sperti mengontrak pelatih sepakbola atau atlet karena untuk membina sdm bangsa indonesia salah satu pendekatan yang terus melekat dalam jiwa bangsa indonesia adalah akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur. Ini hanya bisa di transfer lewat keseharian pribadi guru tersebut.

    Saya pikir kalau mau menggantikan manusia sebagai guru yang berkualitas mendingan diganti saja dengan mesin pintar ( apakah itu robot atau komputer on line ). Biaya murah dan tidak khawatir sang guru molor atau berulah menyimpang . Sudah tentu dangan robotisasi atau kontakisasi kita bisa menghasilkan sdm yang berkualitas tetapi akhlak dan budaya kita hilang dan tergantikan dengan karakter robot tersebut….

    Memang untuk mendapatkan output yang berkualitas adalh hasil polesan guru yang berkwalitas…tetapi jangan lupa budi pekerti bukan di dapat dari seorang guru yang mempunyai lisensi berkwalitas saja….

  4. ide ini mungkin diilhami bahwa kinerja guru sebagai garda terdepan pendidikan sangat buruk. sebelum memikirkan ide ini lebih lanjut, perlu direnungkan ulang apa yang menyebabkan kinerja guru buruk? apakah hanya karena sistem monitoring yang lemah? atau unsur politik yang terlalu intervensi ke dunia pendidikan dan dunia guru?
    lantas untuk ide guru kontrak ini, mungkin perlu pengkajian yang lebih mendalam. perlu kesiapan infrastruktur yang total. memikirkan sekilas, kok memang dalam sistem ini terkandung pengharusan yang sangat harus bagi guru untuk bekerja maksimal, sehingga pada gilirannya dapat menghantar pendidikan nasional ke arah cita-citanya yang luhur. tentang 24 jam @ 45 menit… saya kira tidak terlalu berat. guru masih memiliki waktu yang cukup untuk keluarga, pengembangan diri, dll.

  5. Dear pak Gatot,
    Ide tersebut sangat bagus bila dikembangkan. Bagaimanapun juga kita harus analisa kondisi yang sudah berlangsung. Guru PNS dibayar pemerintah lebih tinggi dan jaminan pensiunan sudah dijanjikan.
    Sebaliknya Guru Kontrak yang terjadi gaji lebih rendah dan tanpa jaminan Pensiunan. Umumnya mental orang Indonesia sangat ketergantungan ingin mendapat pensiun disaat sudah tidak bertugas lagi. Kalau ada guru ingin kerja dengan sistem kontrak alasannya dari pada tidak kerja dan yang berminat SDM dengan kemampuan sisa yang tidak laku dengan gaji tinggi alias di Perusahaan.
    Karena kalau toh ada yang sudah kerja sistem kontrak begitu ditawari oleh perusahaan dengan gaji tinggi pasti akan berpindah. Dampaknya pendidikan terisi dengan SDM yang berkemampuan sisa alias buangan.
    Kalau sistem kontrak penggajian setara dengan gaji PNS perbulannya, maka yang harus dipertanyakan adalah pihak pemerintah atau yang akan membayar gaji guru tersebut.
    Andaikata pemerintah siap menanggung, tahan/mampu berapa lama sanggup menanggung semua guru yang dibuat sistem kontrak? Hry

  6. Dear Pak Gatot
    Assalamu alaikum wr.wb
    Maaf sebelumnya
    menurut hemat saya, sistem yang seperti itu cukup bagus untuk diterapkan. tapi perlu dipertimbangkan beberapa hal yaitu :
    1). kesiapan SDM kita, apakah kita sudah siap dengan sistem seperti itu?, 2) kesejahteraan guru ditengah kehidupan perekonomian negara seperti saat ini dimana untuk mendapatkan minyak tanah saja masih sulit. apakah dengan status guru kontrak bisa menjamin kesejahteraan mereka, atau mungkin negara harus mengeluarkan lebih banyak lagi dana untuk menerapkan sistem baru 3) saat ini berapa jumlah guru PNS, apakah mereka harus dinon aktifkan atau biarkan saja waktu berlalu sampai tunggu mereka semua pensiun seiring dengan penerimaan guru-guru kontrak? 4) fasilitas apa yang dijanjikan oleh negara bagi guru kontrak, apakah lebih menjanjikan di banding guru PNS. nah saat ada yang jadi PNS dan guru kontrak, apakah tidak akan ada kepincangan atau bahkan tidak akan ada yang berminat jadi guru lagi. sangat disayangkan kalau di Indonesia ini akhirnya tidak ada lagi guru, karena tidak bisa dipungkiri setiap orang pasti memikirkan masa depan mereka dan mungkin bagaimana anak mereka jika mereka sudah pensiun dan tidak aktif lagi sedang masih butuh dana untuk kelanjutan hidup mereka.
    sekedar saran, sistem yang ada tetap dilanjutkan dengan mencari jalan bagaimana kualitas guru dan pendidikan ditingkatkan antara lain
    1) penerimaan guru PNS tetap diadakan tapi saat penerimaan, syarat kualitas sudah harus diperhatikan. mungkin sudah harus lulus sertifikasi sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya dan semacamnya.
    2) penerimaan dan penempatan guru PNS harus betul-betul diawasi. penerapan The Right Man on the right place harus diperhatikan. sehingga seorang dengan kompeten bidang “Peternakan” tidak lagi mengajar “fisika” atau “matematika” yang nota bene bukan disiplin ilmu yang bersangkutan.
    3) adanya pembatasan jumlah jam ajar guru PNS baik di sekolah tempat tugas mereka maupun di tempat lain. jangan sampai guru tidak lagi memikirkan kualitas mereka dalam mengajar melainkan hanya sekedar menyelesaikan jumlah kewajiban jam ajar mereka.
    4) setelah dirasa ada kekurangan pengajar, itu pun harus melalui survey dan analisis yang tepat, barulah memikirkan apa perlu penerimaan guru kontrak yang juga harus memenuhi persyaratan profesionalisme.
    5)selanjutnya, untuk peningkatan kualitas guru, evaluasi yang berkelanjutan perlu diadakan dengan menentukan tingkatan atau level profesionalisme guru. mungkin perlu ditetapkan tingkatan tersebut. nah untuk tingkat atau level profesionalisme tersebut kemudian disiapkan solusi seperti pelatihan, workshop atau semacamnya. dan perlu diperhatikan pemerataan kesempatan bagi setiap guru, sehingga setiap guru dapat betul-betul merasa diperhatikan. karena sebetulnya, guru kita butuh dirangkul lebih erat lagi.
    sy juga memohon agar solusi bagi guru betul-betul adalah sebuah solusi, jangan seakan-akan menjadi hukuman bagi guru. karena guru adalah tiang dan tonggak pendidikan. tanpa guru maka negara tidak akan dapat berkembang.

    demikian komentar saya, maaf kalo kepanjangan
    mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan dihati bapak atau para pembaca lainnya. wassalam. santy mks

  7. sebelumnya saya mengucapkan selamat bertugas di tempat yang baru pak, semoga bapak dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi kepada seluruh masyarakat Indonesia dan asean.
    menanggapi topik bapak, tentang guru di china dan kewajiban mengajar 24 jam menurut saya adalah :
    1. bagaimana mental masyarakat kita dibentuk dan dibangun,
    2. bagaimana lingkungan yang ada di sekitar kita dan masyarakat
    3. bagaimana perekonomian yang ada di lingkup daerah dan negara
    4. apakah kebijakan pemerintah mendukung kemajuan pendidikan?
    5. dll

    faktor-faktor tersebut menurut saya memerlukan pemikiran dan pemecahan bersama, rasa gotong royong, saling memiliki dan kebersamaan adalah salah satu kunci yang penting dan ditumbuhkan lagi di masyarakat.

    faktor mental : tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya di daerah maupun di pusat pada saat ini. sudah banyak berkurang dengan banyak permasalahan hukum yang menyangkut pimpinan daerah.

    faktor lingkungan, bangsa Indonesia terkenal dengan beragamnya adat dan budaya yang beragam, dari sabang sampai papua. sepertinya masih sulit membuat standart yang sama untuk semua daerah. Ada suatu daerah ketika musim panen tiba, maka banyak siswa yang tidak masuk dengan alasan membantu panen, mungkin di jakarta sebagai pusat pemerintah juga terjadi hal seperti itu, yaitu ketika anak juga harus merasakan dan menanggung ekonomi orang tua. apakah dengan kondisi tersebut guru dapat membuat dan menciptakan siswa yang siap diuji oleh siapapun dengan hasil yang seperti diinginkan?

    faktor ekonomi, begitu banyak daerah yang pelit untuk memberikan dana pendidikan yang cukup, masih banyak pula kepala daerah yang siap memotong bantuan atau biaya dari pemerintah pusat ke sekolah, meskipun bantuan sudah diberikan langsung lewat rekening daerah. dengan kondisi seperti itu memaksa sekolah untuk menarik biaya pendidikan yang masih tinggi kepada siswanya. sementara perekonomian Indonesia pada saat masih belum stabil, banyak pengangguran dan harga-harga kebutuhan yang mahal.

    kebijakan pemerintah, sertifikasi guru apabila sesuai dengan prosedur merupakan suatu yang sangat baik sekali. tetapi kenyataannya masih banyak terjadi dilapangan seorang guru memalsukan dokumen, mengambil karya cipta teman guru yang lain dsb. semua dilakukan demi sertifikasi guru, ya pada akhirnya kalau sudah dapat sertikasi ya akan tetap tidak ada inovasi yang dilahirkan atau diciptakan… karena “watak tidak sama dengan watuk” kalau watuk (batuk) bisa disembuhkan kalau watak (sifat) seseorang sulit atau bahkan tidak dapat diubah bagaimanapun caranya.
    dana pendidikan 20 % dalam Anggaran Negara pada saat begitu menjadi beban yang berat

  8. Seperti yang sampaikan dimilis sebelumnya, kalau memang sudah sertifikasi dengan gajih 2x lipat dari sekarang, aturan harus lebih tegas mengatur mengenai status guru, apakah itu dalam bentuk perda dengan payung hukum Perprop dan UU sisdiknas, guru seharusnya diberlakukan seperti layaknya di Industri, harus ada selalu evaluasi, kalau memang tidak kompeten ya diganti saja, masih banyak guru non pns yang lebih kompeten tapi tidak memiliki kesempatan tuk jadi pns.
    sertifikasi harus memiliki umur, tidak sepanjang umur berlaku sampai pensiun, tapi harus selalui di verifikasi setiap periodik. Asal semuanya transparan jangan mengada-ada atau jadi alat politik tuk menjatuhkan seseorang.

    wassalam, Ikhwan/ivan

  9. saya prinsipnya stuju sekali pak.ini melatih guru-guru untuk profesional dan kompetitif. tapi tentu ini harus dilakukan dengan bertahap.
    pengalaman dengan sertifikasi misalnya, ini ternyata malah banyak menimbulkan kecurangan2 yang seharusnya tidak pantas dilakukan oleh seorang guru.

    tapi perlu juga difikirkan bahwa guru bukan cuma melatih hal teknis dan tolok ukur keberhasilan nya adalah produk/prestasi yang kasat mata. karena guru berurusan dengan membentuk ‘manusia’. Dulu, guru sangat dihormati (saya berasal dari keluarga guru) karena perannya tidak cuma mengajari hal-hal teknis, tapi juga menjadi panutan dalam hal apapun.

    selain itu, di era di mana informasi sudah sedemikian terbuka luas utk diakses, guru akan bergeser lebih kepada penjaga moral, penuntun etika, motivator, menunjukkan bagaimana cara belajar yang benar dst karena kalo bicara materi pelajaran, di internet sudah berjibun banyaknya. sekarang ini saya kira sudah banyak siswa yang lebih pintar mencari ilmu di internet daripada gurunya. tapi anak2 ini masih banyak pula yang minim penegtahuan untuk mencari ilmu yang “lurus”. nah, guru (dalam peran ke depan) bertugas menjadi penunjuk ke jalan yang lurus tadi

    maaf kalo diskusi malah melebar.. 🙂

  10. Mohon maaf sekedar saran.
    Saya agak ragu sistem itu bisa berhasil disini, sebab di Indonesia guru menjadi tumpuan harapan orang tua siswa, baik pengembangan siswa dibidang akademik maupun pengembangan kepribadian. Jika hanya melihat pengembangan satu aspek saja yaitu akademik mungkin sistem kontrak bisa diterapkan, tapi untuk pengembangan kepribadian siswa rasanya tidak mungkin hal itu dilakukan. Mendidik berarti memberikan seluruh “jiwa” si guru kepada siswa tidak bisa dikotori oleh pertimbangan bisnis. Sementara kontrak lebih beraroma bisnis yag semuanya hanya pertimbangan materi.

  11. assalamu’alaikum wr wb Pak Gatot HP

    secara jujur pemikiran saya adalah memang seyogyanya tidak ada perbedaan sedikitpun kita memandang kepada guru. maka dari kata-kata tersebut dapat diartikan semua guru adalah sama. yang harus segera distandarkan adalah gaji guru. tidak ada penyebutan PNS dan Swasta. gaji guru dihitung sama sesuai tingkatkannya. mengapa demikian? karena ini adalah biangkeladi dari gejolak penolakan ataupun apapun jenisnya penolakan jika PNS selalu dijunjung-junjung dan dimulyakan sedangkan yang bekerja sebagai guru swasta selalu diabaikan dan bahkkan tidak diakui keberadaannya. perlu diketahui juga di kalangan PNS sendiripun timbul kecemburuan-kecemburuan yang ini semua seperti api di dalam sekam. bukankan semua orang yang disebut guru adalah sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa? mendidik dan membimbing siswa sebagai generasi bangsa? calon-calon pemimpin masa depan?
    yang membedakan guru satu dengan guru yang lainnya adalah rapor kinerjanya. saya sependapat jika posisi guru adalah sebagai guru kontrak. yang setiap waktu bisa tidak dipakai lagi jika memang kinerjanya sudah tidak layak lagi.
    usul saya berikutnya adalah… segera disusun instrumen standar guru “kontrak” guna menilai kinerjanya. dan undang-undang yang mengakumudir segala persoalan yang ditimbulkannya dari penetapan guru kontrak serta penilaian-penilaiannya.
    saya yakin… dengan kondisi seperti ini tidak ada guru statis pada gilirannya produktivitas meningkat pesat.

    Wassalamu’alaikum wr wb

    salam
    Mas Ba

  12. Go hed…Just do it…

  13. Pak Gatot yang banyak ide,
    Mengomentari tentang hal ini, saya pribadi sangat sependapat apabila penentuan status guru guru di Indonesia juga diberlakukan kontrak sama seperti yang Di Cina, sehingga tidak akan ada lagi kecemburuan antara guru negeri atau swasta, guru Tetap atau honorer.

    Yang menjadi masalah sekarang adalah payung hukum dan aturan yang mewadahi hal itu harus jelas. Dengan status Kontrak, maka Guru juga harus dievaluasi untuk memperpanjang kontrak. Tetapi hal ini juga harus perlu ditentukan besarnya pendapatan yang akan mereka terima yang tentunya harus lebih besar dari penghasilan sekarang. Tetapi apabila dari penilaian yang dilakukan setelah selesai masa kontrak kurang bagus maka kontrak perlu dievaluasi.

    Dengan demikian maka guru akan semakin profesional untuk bisa dikontrak terus oleh negara, dan mereka juga tidak berlomba lomba untuk menjadi pns.

    Boleh dicoba Pak Gatot. Saya dukung

    Bravo Pak Gatot

    Salam saya

    Sugiyo

  14. Halo pak, setelah sekian lama diam, saya tersentak baca hal ini. Ide ini adalah ide yang sangat luar biasa apalagi untuk komposisi negara Indonesia. Saat ini mungkin faktor terpenting adalah kualitas. Saat ini kami sendiri tengah mentraining 400 Guru NON IT untuk belajar aplikasi komputer dasar (IT-Literacy) yang sangat aplikatif untuk kebutuhan sehari hari mereka. Tersentak kaget ketika 2 bulan ini ternyata kesenjangan sangat sangat jauh, lihat di http://www.pilindonesia.net.

    Ide dengan membuat guru kontrak pasti akan mendatangkan pro dan kontra apalagi kepada mereka yang terbiasa dengan gaya hidup yang “stabil rata” dan tidak terbiasa dengan kompetisi. Di dunia industri seperti apa yang saya rasakan sekarang, kemampuan kita di uji setiap hari oleh kondisi untuk mampu berkembang. PNS dari dulu mungkin menjadi salah satu sistem yang tidak dapat saya terima bahkan sampai saat ini. Kecendrungan hidup stabil dengan pola seperti guru cukup mengajar tanpa mengembangkan diri dan fleksibiltas yang rendah membuat “hole” dalam dunia pendidikan kita saat ini.

    Btw, selamat berjuang di tempat yang baru pak. Kapan ya bisa relaxing talk with pak Gatot ?? kekkekekeke

  15. Saya sangat setuju pak, beberapa tahun lalu sempat saya diskusikan dengan kakak saya bahwa saya bagaimana klo pengajaran di sekolah itu di serahkan ke bimbingan belajar jadi PNS yg ada di sekolah hanya tim menejemen saja seperti: kepsek. dan staf TU. Saya pikir sistim ini efektif mengingat sekolah dapat secara sepihak memutuskan kontrak bila ternyata dalam mengajar tidak memenuhi target. Ini hanya sedikit pemikiran nakal jadi hanya untuk menjadi sebuah wacana dulu.

  16. Wah…sangat setuju sekali pak…..tapi…
    terlebih dahulu perlu kajian mendalam untuk:
    1. Merubah sikap mental guru, pejabat, dewan bersikap profesional yang benar2 profesional bukan lewat fortopolio
    2. Anggaran yang cukup untuk menjamin bahwa jabatan guru juga bisa lebih sejahtera dibandingkan dengan jabatan lain
    3. ketegasan sistem dari sisi konsep dan implementasi serta law inforcment , implementasi reward and punishment
    thank

  17. Sebenarnya mengajar 24 jam bukan solusi yang mudah ditrapkan. Untuk guru disekolah-sekolah nun jauh dipinggir bahkan di atas gunung, dipulau2 terpencil sulit melaksanakan mengajar 24 jam. SMK Kecil yang hanya terisi 3 kelas saja atau paling banter 6 kelas kemana menambah jam kekurangannya? Perlu adanya diskusi baru tentang 24 jam ini. Sekarang bila guru dikontrak seperti ide Bapak, boleh-boleh saja, tapi harus diingat pula kultur budaya kita harus disiapkan menjadi manusia pekerja yang punya etos kerja mumpuni. Guru kita siap apa nggak? Mungkin menurut saya dibuat kelas pekerja untuk yang dijalur kontrak atau memilih tetap dijalur PNS. Tentu saja perhitungan gajinya akan berbeda pula dan perlakuannya juga berbeda serta jenjang karirnya berbeda pula. Jadi guru yang merasa punya kemampuan dan kompetensi yang memadai dia bisa memilih karirnya sesuai keinginannya.
    Maaf tidak bermaksud menggurui.
    Wassalam,
    Banjar Sadono

  18. Setuju sekali pak. Menjadikan guru ke dalam pola kotrak akan mendorong inovasi guru karena mereka merasa berada dalam suatu lingkungan persaingan sehat yang menuntut inovasi. Dengan adanya evaluasi kontrak per 2 tahun memungkinkan kita melihat sejauhmana performansi yang dimiliki guru tersebut.

    Semoga pola ini dapat segera diberlakukan

    Salam pengembangan

  19. Setuju sekali pak. Menjadikan guru ke dalam pola kontrak akan mendorong inovasi guru karena mereka merasa berada dalam suatu lingkungan persaingan sehat yang menuntut inovasi. Dengan adanya evaluasi kontrak per 2 tahun memungkinkan kita melihat sejauhmana performansi yang dimiliki guru tersebut.

    Semoga pola ini dapat segera diberlakukan

    Salam pengembangan

  20. @all, terimakasih masukannya, bona , ivan, tope, p sadono, p harto, p giyo, ba,, hry , dkk lainnya kayaknya perlu suatu saat kita temu darat sambil diskusi……

  21. Dear Pak Gatot,
    saya setuju kalau Guru itu menggunakan sistem kontrak (walaupun kenyataan di indonesia agak sulit), saya berprofesi sebagai tenaga guru di Minahasa, sulut. mengajar di SMK yang cukup terkenal. Jam mengajar saya cukup banyak, yaitu 22 jam mendekati kuota mengajar guru PNS yang 24 Jam. Namun demikian tidak mendekati dengan upah yang saya dapatkan. Dari jumlah jam mengajar tsb, saya hanya mendapat gaji 300 rb/bulan. sehinggan saya sangat mengharapkan sekiranya ada program bantuan dari pemerintah khususnya depdiknas untuk menunjang upah dari guru honor selain insentif yang diterima setiap 6 bulan sekali. Terima kasih…

  22. Maaf pa,

    Bagi sy, selama ini untuk kepentingan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia dan peningkatan kesejahteraan guru sepertinya perlu dipertimbangkan, hanya perlu diperhatikan :
    a. Kepastian sistem yang akan dilakukan, karena spertinya dinegara kita ini serba coba-coba (latah-latahan). Belum tentu apa yang dilakukan negara lain berhasil dapat berhasil pula di negara kita.
    b. Kemampuan Negara….. benarkah mampu dr segi anggaran maupun operasional sistem ini.
    c. Sudah seberapa siap seluruh sdm dan institusi d negara kita…. sepertinya sangat jauh dari siap terutama menyangkut kualitas dan mentalitas.

    Sy kira permasalahan di negara kita tidak hanya masalah guru, contoh :
    1. Sekolah-sekolah (baik negeri maupun swasta) banyak yang tidak memiliki fasilitas belajar dan praktek yang layak.
    2. Standar pelayanan sekolah berbeda-beda. Coba klo sekolah mengambil konsepnya mc-donal, maka sekolah di Jakarta maupun sekolah di pelosok pasti sama pelayanannya (terstandard).
    3. Boleh dikatakan tidak ada fungsi pengawasan/kontrol proses pelayanan sekolah. Fungsi pengawasan/kontrol selama ini tidak berjalan pa………, Ini kembali ke permasalahan mentalitas perangkat. Karena kalo ada sy yakin dengan begitu banyaknya program bantuan yang digulirkan oleh depdiknas pasti kualitas pendidikan di negara kita akan lebih baik.
    4. Sy sering melihat sekolah yang katanya standar nasional atau internasional pada kenyataannya tidak demikian. Sering kali sy mendengar :”yang penting kan dapet bantuannya”. Sy kira disini depdiknas perlu membeli perangkat kamera yg bagus yang dapat melihat secara nyata dan akurat kondisi sekolah yg sebenarnya.
    5. Disisi kebijakan pusat, jangan asal menelorkan program atau gagasan hanya ingin mengeluarkan anggaran saja. Contohnya : Ada program pusat yang selalu tumpang tindih diantara beberapa divisinya sendiri, mestinya kan saling mendukung dan saling melengkapi.
    6. Apakah ada masterplan pendidikan di negara kita?, klo ada ya tinggal dilaksanakan secara baik sesuai dengan aturan mainnya.

    Sy kira ide guru kontrak ini pun jangan hanya berpikir sesaat dan emosional, perlu dipikirkan secara matang , research, dan uji coba yang baik. Contohnya sertifikasi guru dan dosen sampai sekarang kan belum ada tidak lanjutnya, klo saja konsep ini dilaksanakan secara baik pasti akan diperoleh kualitas pendidikan yang menigkat. Semuanya kan sudah ada aturan mainnya, ya jalan kan saja dulu yang sudah bergulir…..,

    Kelemahan di kita, program yang satu belum tuntas sudah muncul lagi program lain yang identik. Padahal belum diketahui baik/buruknya program yang lama itu. Ganti Pimpinan Ganti Kebijakan.

    Hemat saya…
    Jalankan saja program yg sudah ada secara baik dan adakan fungsi pengawasan/kontrol yang maksimal, sesuai dengan aturan yang ada, evaluasi program dipublikasikan ke umum spy semuanya dapat ikut berpasrtisipasi demi kemajuan pendidikan di negara yg kita cintai ini.

    Trima kasih….
    Bangkitlah Pendidikan di Indonesia………!!!!

  23. saya sangat setuju apabila semua guru menjadi pegawai negeri atau semua menjadi guru kontrak, jadi tidak ada istilah guru yang macam-macam sehingga akan mudah memberikan monitoring dan evaluasi.

  24. Wah, kita sangat setuju dengan ide itu jika diterapkan di negeri kita. Saat ini memang motivasi guru dalam pembelajaran sangat kurang. Banyak faktor yang mempengaruhi.

    Adanya sertifikasi guru, membawa haapan baru bagi dunia pendidikan. Namun dengan sistem yang telah berjalan, ternyata sertifikasi belum lah menjadi harapan. Padahal kita tahu, faktor terbesar yang mempengaruhi mutu pendidikan adalah guru

  25. Maju Terus Dunia Pendidikan kita…

  26. Guru ??? kata penyair setara dengan umar bakree……..
    Itulah sebagian image masyarakat dengan profesi ini, sebuah profesi yang cukup menyedihkan jika orang melihat dari aspek kesejahteraan.
    Guru ??? adalah pahlawan tanpa tanda jasa….itulah penghargaan yang telah diberikan oleh sebagian masyarakat.
    Dari dua image di atas guru adalah sebuah profesi yang mulia karena ditangan sosok guru bangsa ini mau dibawa kemana.
    Tetapi disisi lain guru menjadi profesi yang belum bisa mendatangkan penghasilan yang cukup untuk menjadi soko guru ekonomi keluarga.
    Dari kondisi ini saya berpendapat :
    1. Guru adalah profesi mulai di tengah masyarakat kita, maka kita harus mendorong/memotivasi para guru untuk berkarya yang terbaik buat masa depan bangsa ini. Menjadi guru adalah sebuah pilihan bukan karena paksaan atau tidak ada pilihan lain.
    2. Guru adalah manusia biasa yang punya keinginan yang sama untuk bisa hidup layak sebagai mana bisa dilihat dengan pegawai lain NonGuru.
    Dari 2 kondisi itu memang tidak tidak bisa kita hanya memilih salah satu, pilihanya adalah paket. Maka bagaimana kita dapat memiliki guru yang betul2 profesional yang banyak komponen masyarakat mengakui. Mengukur guru yang profesional adalah PR kita bersama ……..
    Guru yang profesional harus disejahterakan agar mereka dapat merasakan hidup yang layak, masyarakat memberikan citra yang positif …ternyata guru adalah profesi pilihan termasuk grade atas. Mensejahterakan guru yang profesional, adalah tanggungjawab pemerintah dan kita semua.
    Jadi ide guru kontrak seperti yang dilontarkan pak gatot menjadi hal yang baik jika untuk mendapatkan guru yang profesional dan guru tersebut sejahtera.
    Ide ini sangat baik bagi kita untuk mendapatkan guru masa depan………….. dan menjadi bahan renungan untuk guru yang sudah ada.

    wajiran

  27. salam untuk pak gatot……………..

    taggapan saya tentang 24 jam untuk guru adalah solusi pemerintah untuk menekan jumlah guru di indonesia. karena kalau dihitung 18 jam/minggu maka kebutuhan guru di Indonesia menjadi banyak. dan hal ini disatu sisi menguntungkan pemerintah dari segi pengeluaran keuangan negara dari gaji guru. menurut saya yang ideal bagi seorang guru adalah 18jam/minggu.

    tapi saya lebih setuju tidak ada PNS tapi guru sifatnya dikontrak. kalau kinerjanya tidak bagus harus diberhentikan. tidak seperti sekarang ini, problem utama adalah masalah evaluasi dan kompetensi guru tidak berjalan. ada masalah di daerah guru tidak masuk beberapa bulan tetapi tidak di proses secara kedinasan.

    demikian pak masukan saya.trims

  28. Mau guru pns atau kontrak menurut saya tak terlalu jauh berbeda. Masalah kita yang mendasar adalah moral. Pns atau kontrak, kalau mendapat reward n punishment yang fair, simultan n continue, maka hasilnya akan bagus.
    Blog bapak saya tautkan ya, saya baru belajar ngeblog..

  29. Pak Gatot yth

    Suatu ide yang membuat kami ingin mengekplorasi dan merenung untuk membuat suatu strategi pembaharuan dalam menciptakan SDM calon guru yang mengarah ketujuan yang ada elemen elemen yang diharapkan tersebut, kita berbuat sekarang bukan hanya sekarang dinikmati , seorang guru prinsipnya mempunyai kompetensi dan diterapkan dalam kehidupan sehariannya, mahasiswa calon guru kami pada semester 3 pendekatannya selain kompetensi dan produksion base juga economical base edc. melalui project work mereka belajar dan berusaha , dan segera membentuk kelompok bisnis seperti dikonsentrasi AGRIBISNIS SUTERA AlLAM membentuk KUB-KUB untuk menghasilkan penghasilan dan terakhir dia sudah menjadi jagoan pebisnis pemula dan diawal mereka sdh kontrak belajar untuk menjadi guru dan bagi dia tidak masalah sebagai guru kontrak bahkan menjadi self essesement mereka sebagai alumni kami.
    demikian pak sekelumit dari kami

    anton sugiri
    vedca cianjur

  30. Yth Bpk Gatot
    Sedikit melihat kondisi guru di daerah Malang Raya khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
    Selama ini sosok guru dengan pekerjaan yang digelutinya sehari hari sangat berpengaruh besar terhadap perubahan tingkah laku dan pola pikir dari anak didik / siswa. Berbagai konsep kurikulum selalu mengalami perkembangan sesuai dengan kondisi jaman yang ada. Memang sangat diakui dengan adanya kurikulum tersebut menjadi jelas kemana seorang guru mengarahkan anak didik / siswa pada proses pembelajarannya sehingga target pencapaian kualitas SDM anak didik dapat sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Akan tetapi sosok guru yang ada di Indonesia selama ini masih sangat berkaitan erat pada ” hubungan antara tingkat kesejahteraan guru di dalam memotivasi sistem pembelajaran terhadap anak didik / siswa “. Kondisi guru dengan status PNS lebih fokus di dalam mengembangkan dan menciptakan berbagai sistem pembelajaran terhadap anak didik dibandingkan dengan guru dengan status swasta / gtt. Mengapa demikian ? Dengan tingkat kesejahteraan yang dimiliki seorang guru negari / PNS, guru tidak disibukkan lagi dengan berbagai macam kegiatan guna mencukupi kesejahteraannya. Kondisi ini sangat berbeda pada guru guru swasta / gtt yang hampir setiap harinya harus membagi waktu antara mendidik siswa dengan menambah waktu kerja di luar sekolah yang lain guna memenuhi target pendapatan yang mendekati standar seorang guru PNS. Ironisnya dengan berbagai status yang disandang guru di Indonesia saat ini beragam istilah telah melekat pada sosok guru, seperti status guru negeri / PNS, guru DPK, guru bantu, guru kontrak, guru swasta (gtt yayasan) dan guru gtt (di sekolah negeri). Tentunya beragam status guru tersebut sangat berbeda dalam hal tingkat penerimaan kesejahteraan / gaji yang diterimanya, padahal dengan beban mengajar, waktu mengajar serta jumlah sks yang dikerjakan adalah sama.
    Selama di negara Indonesia ini masih ada perbedaan antara hak pada beragam guru tersebut, sedangkan kewajiban yang harus kerjakan adalah sama, maka berbagai macam bentuk metode, sistem maupun kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah di dalam meningkatkan SDM anak didik / siswa, mulai tingkat SD sampai tingkat SMU/SMK akan sangat jauh dari harapan.
    Di lihat dari perbandingan jumlah sekolah negari dan swasta di tingkat kecamatan sampai kota, mulai dari SD, SMP maupun SMK jelas perbandingan sekolah swasta dan negeri masih lebih banyak sekolah swasta. Secara mudah jumlah guru swasta dibanding guru negeri akan mengikuti jumlah sekolah yang ada yaitu guru swasta masih lebih besar / banyak di banding guru negeri.
    Jadi disini saya lebih menekankan pada hal permasalahan mendasar yang selama ini dirasakan dan dialami oleh teman teman sesama guru swasta di dalam meningkatkan kualitas SDM anak didik / siswa.
    Jika hal mendasar ini dapat teratasi, maka berbagai macam bentuk ataupun berbagai model sistem pembelajaran yang diterapkan oleh guru baik itu mengenai kurikulum ataupun salah satu kutipan ” selain itu setiap mata diklat , bisa di uji secara nasional secara online, dan bila siswa/pesertanya lulus 70 % maka akan di nyatakan lulus dari mata diklat tersebut….seperti yg dilakukan oleh industri jaringan-cisco atau bahasa toefl atau toiec.. ” seperti yang telah sedikit dipaparkan pada blog Bapak Gatot yang terhormat, akan berpeluang sangat besar dalam hal pencapaian target kualitas SDM peserta anak didik

  31. Pak Gatot yth,

    Revolusi pembelajaran memang harus digulirkan, khususnya yang menyangkut tentang pola pembelajaran dan penglihatan kembali eksistensi kelas.

    Guru kontrak,sangat cocok untuk 2 kondisi. pertama, jumlah sekolah makin menurun dan pelayanan akses sudah optimal ( seperti di SD dan sebentar lagi SMP ) ; kedua , penghasilan dan penghargaan bagi guru sepadan dengan profesi lainnya.
    Untuk di Indonesia, mengajar 24 jam dan guru kontrak, secara artifisiatif ( dibuatkan simulasinya, diujipakaikan pada beberapa likasi dan diamati perkembangannya ) digulirkan apada sekolah yang sudah pada tataran pengembangan mutu ( misalnya SMK SBI/ Sekolah bertaraf Internasional ) . Di sana, bukan hanya materi, tetap[i pencitraan , pengakuan, peluang tetapi juga suasana yang cukup kondusif untuk pengembangan karier. On/Off guru bukan hanya kontrak dan resign, tetapi juga promosi dan mutasi. Promosi bagi guru yang yang baik di suatu sekolah dan mutasi bagi guru SBI yang belum perform.
    Tentu menimbulkan pertanyaan, mengapa hanya SBI, dan bagaimana dengan nasib sekolah lainnya? apakah dibiarkan dengan kualitas apa adanya ? Tentu tidak. SBI nantinya jadi trend setter dan akhirnya bisa diraih oleh setiap sekolah, karena SBI bukan predikat sekolah berbasis SK, tetapi batas limit kualitas yang sudah dilampauai oleh setiap sekolah dalam melayani proses pembelajarannya.

    Mari kita mulai, Ide akan berdaya guna dan terukur , bila ada yang mengaplikasikannya.

    Salam,

    Mustaghfirin

  32. Sangat sependapat dengan ide Pak Mus,

    Kita perlu bentuk inkubator-inkubator baru dalam hal ini SBI sebagai produsen embrio-embrio pilihan.

    Kita perlu segera perbaiki mutu SMK-SBI melalui kerjasama international. Kapan Pak Mus ke Jerman lagi ?
    Kita perlu segera kunjungi sekolah-sekolah disini dan bentuk MOU lagi seperti dengan EST dahulu…

    InsyaALLOH, peningkatan mutu guru kontrak akan drastis lajunya jika memperoleh pengalaman magang LN…

  33. salam perjuangan pak Gatot…

    ada berita menarik nich…. dari ajang Lomba Kompetensi Siswa SMK Nasional 2008.

    sekarang ini pembimbing LKS harus orang-orang yang sudah mendapat NIP. ini politik apa lagi ya pak?
    ternyata dunia pendidikan berikut guru-gurunya yang legal adalah dunia pendidikan yang guru-gurunya adalah yang sudah ber NIP.

    ini sebenernya maunya apa sih?

    mohon pak ini dicerahkan walaupun bukan kewenangan bapak Gatot.

    salam
    Mas Ba

  34. @mas ba, mungkin yg terjadi sekarang adalah mereka yg aktif di lembaga pendidikan, atau training center, ……pd bbrp tempat yg terkait dgn relevansi dgn industri belum banyak di lakukan utk pengecekan kompetensi …..setiap masa mempunyai ciri khasnya tergantung mereka yg mengambil keputusan….
    dunia industri selalu berputar menuju efektifitas dan efisiensi tinggi….tinggal kita lihat mana yg paling laku lulusannya setelah selesai sekolah….itu yg terbaik pendidikan kompetensinya thd situasi terakhir..dari industri kita…yg banyak nganggur ya…berarti mereka belajar tidak relevan dgn kebutuhan saat ini…jadi tidak kompeten..atau kompeten tapi tidak di butuhkan….dst2…
    mari kita perbaiki yg ada di tangan kita…utk menjadi lbh relevan dgn kebutuhan siapapun….

  35. sekarang ini ada guru bantu, gtt dan pns. jika saya menjawab setuju dengan wacana di atas “ya”. Karena pada dasarnya para bapak ibu guru kita yang sudah pns ternyata reaksi inovatif dan kreatifnya sudah mulai memudar ketika menjadi pns (maaf kalo saya berpendapat begitu tapi di sini begitu). Setiap pekerjaan yang ada dinominalkan ketika nilai nominal tak ada pekerjaan pun tak terlkasan padahal jika dibandungkan dengan perolehan saya sebulan mereka dua kali lipat plus tunjangan. Jikalau saja wacana di atas memang terjadi mungkin akan lebih menggiatkan kreatif yang ada karena sedikit terpecut oleh sistem.Baik yang pns, guru bantu maupun gtt. Berdasarkan pengalaman di sini para guru mudalah yang lebih giat bekerja karena faktor banyak hal. Dan para tetua hanya monitoring saja pokoknya beres? tapi itu tidak adil ketika ada kesalahn yang jadi tertuduh malah yang bekerja. Jikalau saja perolehan gaji guru kontrak dan PNS sama banyak dari kami yang tak akan mengejar status PNS dan memilih Guru kontrak karena tidak terikat. Yang membuat tergiur dengan status PNS adalah kesenjangan yang ada dalam pembagian gaji dan kesejahteraan meski kesejahteraan pns tidak sejahtera secara cukup tapi tidaknya bisa lebih baik dari para GTT dan guru bantu yang tidak dibayar selama kurang lebih 7 bulan. Jadi sepertinya ada potensi baik dengan wacana diatas agar etos kerja kita semakin up dan semakin inovatif dan kreatif seperti slogan smk yang ada.

  36. Maaf, jika boleh sedikit menyanggah Pak PHEI…

    Setahu saya sejak jaman dirjennya Bpk ZA Achmady dan direktur dikmenjurnya Bpk Pakpahan atau bahkan sebelumnya memang permasalahan sama. Kalo kursinya udah empuk, biasanya ngantuk n susah utk dibangunkan.
    Saya kira permasalahannya terletak di management sekolah itu sendiri. Maka dari itu, kepala sekolahnya lah yg harus aktif bertindak. Alhamdulillah sudah ada ISO9001, meskipun masih sebatas sertifikasi…

  37. Ide cemerlang, semoga bisa diterapkan, karena mutu pendidikan harus ditingkatman maka kwalitas guru juga harus di evaluasi. Selama ini pengawas jarang memberi motivasi maupun arahan guna membangun kwalitas guru. Di sekolah guru sering terlambat dan dianggap biasa, jam ngajar banyak yang kelayapan, jadi dengan sistem baru ini guru harus terus berbenah diri. Kalau untuk tugas tambahan seperti PJ dalam sekolah SSN/SBI umumnya banyak yang menghindar, tapi kalau urusan honor alaias kantong saling berebut. Inilah kondisi guru kita yang banyak kurang bermoral (momok diobral). Bravo pak Gatot, salam kenal dari saya Guru SMPN 1 Bontang-Kaltim

  38. Dear P Gatot,
    Sebuah usulan yang menarik pa,memang pada saat ini dikotomi atau perbedaan istilah di guru inilah yang menjadi masalah sehingga berimbas juga pada penghasilan dan kinerja seorang guru.
    bisa kita bayangkan seorang GTT pasti akan mengajar di banyak sekolah terkait dengan target setoran untuk menghidupi Rumah Tangganya, dengan kondisi demikian sangat sulit untuk sorang guru memberikan kemampuan nya secara optimal apalagi dengan kondisi mengajarnya yang berbeda mata pelajaran di tiap sekolah, ditengah tuntutan meningkatkan kualitas guru sepertinya sangat susah bagi guru untuk mengembangkan/meningkatkan kualitasnya.ditambah dengan tugas administrasi guru yang semakin banyak.
    Mudah-mudahn wacana tersebut bisa diwujudkan dan didengar oleh pengambil kebijakan…..

  39. dear p gatot,
    gw butuh les privat bhs ing dr gr SMAN 1 Cep….
    tlg bantu cariin dink…………please kasi taw no kontak ato emailna…
    tks ya bpku yg cakep

  40. Apapun istilah hanya sebatas sebutan, yang terpenting komitmen kita dalam pembenahan pendidikan sudah bulat dan berkesinambungan belum ? . Kebesaran jiwa setiap pimpinan dalam menyerahkan tongkat estafet kebijakan pada pemegang amanah berikutnya belum membudaya , sehingga dapat menimbulkan friksi2 pada kebijaka berikutnya.Politisasi pendidikan sudah dominan, kita belum siap menerima apa adanya dari hasil proses pendidikan ini secara jujur, Guru memang menjadi sentral kegiatan KBM, jadi butuh di perhatikan dalam proses pembelajarannya, Meminjam istilah pak. gatot, kompeten tapi tidak di butuhkan atau sebaliknya, tergantung pada kebijakan yang diberlakukan di lingkup masing-masing pak, perlu indikator yang standar untuk mengukur tingkat keberhasilan setiap guru. Sehingga hasil yang di dapat akan paralel dengan peningkatan kompetensi masing-masing guru. Hidup memang harus dinamis , agar tetap unggul kita perlu deversifikasi kompetensi baik dalam mengajar maupun dalam membekali diri untuk berkompetisi yang lebih baik , saya sependapat bila setiap pemegang amanah diberlakuan kontrak kinerja dengan acuan indikator yang jelas dan terukur secara jujur.

  41. memang seharusnya begitu, kalau Indonesia tidak mau sellalu ketinggalan dalam sistem pendidikan, pemerintah harus memberlalukan kebijakan yang “ekstrim” seperti di negeri china(china=kebijakan wajib). saat ini sistem pendidikan kita tidak jelas, kearah mana dunia pendidikan kita. banyak kebijakan-kebijakan yang “aneh” yang berdalih untuk peningkatan pendidikan, tapi kenyataannya itu hanya sebuah “proyek” yang ujung-ujungnya duit (UUD). Sungguh ironis memang…Padahal tolok ukur perkembangan budaya dan peradaban suatu bangsa adalah pada bidang pendidikan. Semakin tinggi rata2 pendidikan suatu bangsa , maka semakin baik -terarah cara dan pola berpikirnya.

    • sepengetahuan saya selama ini pendidikan di indonesia sudah lumayan bagus…cuman satu yang kurang bagus… mental-mental pembuat kebijakan yang ada di pusat sampai daerahlah yang perlu di perbaiki…………..daya sepakat dengan raavi MEMANG UJUNG UJUNGNYA DUIT…..alias UUD

  42. maju terus pendidikan indonesia

  43. apapun semua itu proses…klo kurang pas ya terus diperbaiki…klo ada yg salah ya di perbaiki terus menerus…apapun yg ada di depan kita adalah kerja bersama…utk perbaikan yg terus menerus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: