Pengalaman perjalanan dan pengamatan budaya/attitude rakyat jepang

Dalam kesempatan berkunjung ke jepang dalam acara mou dgn keio univ, ada bbrp pengalaman yg menarik utk di simak.

  1. penghormatan kepada senior yg alumni yg ceo Toyota. Dalam seminar ttg pengembangan Toyota dan pengalamannya, setelah ceo pulang menuju mobil nya, rector danpimpinan keio yg yg mengantar ke mobil nya, pada saat membukakan pintu mobil dan menutup pintu mobil, mereka menghormati dgn membungkuk 90 derajat, sampai mobil nya hilang dari pandangan mata….menarik…
  2. di airport, di loket jal yg melayani garuda, saya mengalami kesulitan , karena sesuatu hal teknis, namaku nggak keluar di layar komputer, penerima tiket dan passport menyilahkan tunggu sebentar dan minggir sedikit, dan di ambilkan kursi lipat, karena mereka tetap melayani yg antri di belakangku, pimpinan steawardes menyelesaikan masalahku di tempat lain , 10 menit kmdn, aku diberi boardingpas dan bagasi langsung di tangani, sambil meminta maaf sambil membungkuk karena lama mnegurus dan atas ketidak nyamanan saya….surprise..
  3. di airport, aku membeli coklat, yen nggak jucup, bayar pki dollar, dia bilang 4 dolar,..akudpt coklat trs pergi, baru 4 langkah di panggil sama pimpinannya, mereka mohon maaf ada kesalahan hitung, uangku di kembalikan 1 dollar dan bbrp yen….surprise…
  4. aku masuk pesawat garuda…pramugarinya ada yg mukanya ramah..ada yg kenceng..ndak bias tersenyum…knp ya mereka yg melayani langsung industri jasa dan pariwisata..tidak cukup di lengakpi dgn standar pelayanan minimal yg bis tersenyum dan ramah….tersenyum itu kan tidak mahal…dan ramah itu kan suatu keharusan utk industri pariwisata….

menarik kalau di simak, nilai2 kejujuran, hormat dan loyal sama senior dan atasan serta pelayanan yg baik, sehingga pelanggan tidak merasa di sepelekan……..yg menjadi pertanyaan dikepalaku, bagmn mereka mendidik bangsanya, tetep maju jadi bangsa kuat, tanpa melunturkan nilai2 yg baik..dan tetap melayani tamunya, langganannya secara baik…….bangsa jepang ini sdh mengalami proses evolusi yg bersinambungan dan terus menuju yg terbaik dalam teknologi…tapi bgmn mereka mendidik attitude rakyatnya…suatu hal yg perlu difikirkan dan di kembangkan di Indonesia…karena bila nilai2 baik ini mulai hilang…tidak ada respek…tidak bias melayani dgn baik….tidak ramah….klo ramah atau melayani itu di anggap rendah…

ini salah satu pengalaman budayaku yg pingin aku bagi dgn kawan2 yg baca tulisan ini…ayo kita perbaiki kantor/sekolah atau lingkungan kita dgn memberi contoh dan mendidik lingkungan kita dengan jiwa melayani dgn baik dan melakukan yg terbaik…..dan kita harus percaya suatu saat Indonesia akan menjadi lebih baik lagi…

lebih disiplin, jujur, terbuka, senang menolong dan melayani oranglain, menghormati orang tua dan yg senior, dan berkeinginan utk maju dan menjadi yg terbaik di bidang masing2..Amien

saran dan upaya  anda klo nggak keberatan bagilah dgn semuanya…terimakasih ya….

Iklan

31 Tanggapan

  1. saya lihat kelemahan bangsa kita, dari awal harusnya dididik kultr jawa, yang menurut saya itu gak kalah sama jepang, tetapi sekarang seperti jalanan yang mengajarkan mereka.

    kalau perlu kurikulum kepuasan pelanggan –pelanggan internal, pelanggan external–, serta 7 habit ala jawa diajarkan dari kecil.

    apakah ini memungkinkan? maklum contoh dilapangan DPR yang korupsi, affair, kerja males2an, tidur pada pari purna, pejabat yang bangga bisa menggunakan dana operasional, tidak ada performance review …

  2. Menurutku , 30 tahun lalu waktu aku masih kecil .kehidupan di desa sangat kekeluargaan sekali dimana yang muda mengormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda seperti pepatah ” mikul duwur mendhem jero”.Sifat gotong royong sangat kental sekali ,contohnya jika ada tetangga buat rumah ,maka tanpa diminta yang buat rumah dengan sukarela tetangga rumahnya akan membantu dengan senang hati walau tanpa dibayar. Bahasa jawa sebagai komunikasi didaerahku merupakan ungkapan penghormatan bagi yang lebih tua yang disebut basa Krama Inggil, kebiasaan kebiasaan dalam kehidupan sehari hari bersopan santun menunjukan sebenarnya bahwa bangsa kita (indonesia )adalah bangsa yang bermartabat dan berbudaya.
    Seiring dengan perkembangan dunia informasi dan hiburan Televisi tahun 1985 seterusnya ,membuat sebagian generasi kita agak kebablasan dalam menyerap informasi dari dunia barat. perilaku dan gaya dalam film menjadi acuan pendidikan sehari hari bagi pemirsa televisi sehingga lambat laun budaya ketimuran kita yang luhur mulai luntur. efeknya gaya kosumsi sehari hari kita mirip gaya hidup orang bule .
    sungguh dasyat sekali pengaruh dunia informasi ini, ada segi positip dan negatipnya. menurutku perlu dicari gaya pendidikan yang bisa mengembalikan budaya kita yang luhur dulu. baik dari pendidikan formal maupun non formal( keluarga) . marilah kita beri tauladan bagi anak anak kita ,saudara saudara , teman teman, murid murid kita.bahwa sebenarnya bangsa kita indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang punya harga diri dan peradaban.
    ini pendapatku bagaimana dengan pendapat anda……..

  3. Menurutku , 30 tahun lalu waktu aku masih kecil .kehidupan di desa sangat kekeluargaan sekali dimana yang muda mengormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda seperti pepatah ” mikul duwur mendhem jero”.Sifat gotong royong sangat kental sekali ,contohnya jika ada tetangga buat rumah ,maka tanpa diminta yang buat rumah dengan sukarela tetangga rumahnya akan membantu dengan senang hati walau tanpa dibayar. Bahasa jawa sebagai komunikasi didaerahku merupakan ungkapan penghormatan bagi yang lebih tua yang disebut basa Krama Inggil, kebiasaan kebiasaan dalam kehidupan sehari hari bersopan santun menunjukan sebenarnya bahwa bangsa kita (indonesia )adalah bangsa yang bermartabat dan berbudaya.
    Seiring dengan perkembangan dunia informasi dan hiburan Televisi tahun 1985 seterusnya ,membuat sebagian generasi kita agak kebablasan dalam menyerap informasi dari dunia barat. perilaku dan gaya dalam film menjadi acuan pendidikan sehari hari bagi pemirsa televisi sehingga lambat laun budaya ketimuran kita yang luhur mulai luntur. efeknya gaya kosumsi sehari hari kita mirip gaya hidup orang bule .
    sungguh dasyat sekali pengaruh dunia informasi ini, ada segi positip dan negatipnya. menurutku perlu dicari gaya pendidikan yang bisa mengembalikan budaya kita yang luhur dulu. baik dari pendidikan formal maupun non formal( keluarga) . marilah kita beri tauladan bagi anak anak kita ,saudara saudara , teman teman, murid murid kita.bahwa sebenarnya bangsa kita indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang punya harga diri dan peradaban.
    ini pendapatku bagaimana dengan pendapat anda……..

  4. itulah hebatnya jepang, kita yang di indonesia terlalu banyak menyiapkan ujian nasionalnya saja. bahkan sekarang smk praktik dianggap tidak perlu kalo nanti tidak lulus ujian nasional, apalagi budaya sama sekali tidak tersentuh.
    ujian nasional boleh saja, tapi penentu kelulusan ditentukan penuh oleh gurunya

  5. Beberapa budaya Jepang lain:
    Pakaian tradisional (kimono) masih dipertahankan dan sangat dibanggakan pada
    zaman super modern ini. Intinya CINTA produk dalam negeri dan budaya bangsa
    sendiri.
    Melepas sepatu dan sandal dari bepergian diletakkan secara terbalik (menghadap
    kedepan) siap (menudahkan) untuk dipakai. Intinya sikap DISIPLIN memperlancar
    pekerjaan yang akan datang.
    Mengomentari pengalaman pa Gatot melihat senioritas di Jepang, kita prihatin
    dengan budaya senioritas dan hubungan guru-murid atau anak-orang tua. Dalam dua
    tiga dekade terjadi perubahan yang drastis. Semasa penulis mahasiswa di tahun
    70an, kalau menghadap dosen di ruangnya, tidak berani masuk walau sudah mengetuk
    pintu sebelum disuruh masuk, sekarang? Mahasiswa kita ada yang tidak tahu nama
    dekan dan rektornya? opo tumon. Ada pengalaman menarik penulis.
    Ada mahasiswa masuk ruang saya, dia bertanya: Pak, pa Effendie ada?
    Saya jawab: O, saya belum melihat pa Effendie tuh! (karena diruang saya tidak
    ada cermin jadi Effendie belum melihat Effendie, hehehe), padahal di papan depan
    ada nama dan foto semua dosen jurusan.
    Di Jepang, Korea dan Cina penghormatan kepada senior, kepada guru (sen zei,
    suhu/sefu) begitu bagus dan tidak berubah sejak zaman dulu walau berbagai
    perubahan2 lain terjadi juga, tetapi tidak merubah budaya lokal.
    Nah, bagaimana caranya agar budaya-budaya yang baik dan berdisiplin bisa kita
    budayakan? Unggah ungguh, tepo seliro, jiwa satria dsb perlu kita lestarikan.
    Darimana kita mulai???
    Salam
    Effendie

  6. Penting bagi kita untuk melihat nilai-nilai baik yang dilakukan oleh orang lain bahkan bangsa lain, seperti pengalaman bapak di negeri jepang.
    Dengan melihat etika berkomunikasi bangsa kita yang sudah bergeser ke arah tanpa tatanan, maka ada beberapa hal yang perlu bersama2 kira lakukan :
    1. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang memungkinkan masyarakat mengenal budaya adi luhung yang diwariskan nenek moyang orang jawa waktu itu, baik melalui pendidikan formal maupun non formal, maupun melalui unit-unit kerja baik pemerintah maupun swasta.
    2. Berikan teladan yang baik,…karena mencari sosok teladan sekarang sudah barang langka.
    3. Jangan pernah mengharap perubahan dimulai dari orang lain, diri kita lah yang harus mulai berubah.
    4. Pilih pejabat yang punya moral alias waras, karena banyak yang mentalnya perampok,… makanya dukung SBY untuk melakukan penegakan hukum dengan memberikan informasi siapa2 yang layak ditangkap dan dipercepat untuk menghadap ke pangkuan ibu pertiwi.
    5. Pintarkan anak bangsa sehingga mereka bisa menyelesaikan permasalahan diri sendiri.

    Siapa yang harus memulai ? ya kita sendiri

    smoga anak cucu kita tidak semakin remook……….

  7. Saya punya seorang teman guru bahasa jepang yang baru saja pulang dari jepang, ada yang terkesan memang dari cerita teman saya waktu di jepang.
    1. Anak sekolah tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor sehingga jepang bersih dan tidak berpolusi
    2. Kebersihan, jepang sangat menekankan kebersihan, mereka bilang katanya kalau anak kecil kita biarkan membuang sampah sembarangan nanti apabila sudah besar bisa memiliki mental korupsi
    3. Kedisiplinan, orang jepang sangat mengutamakan kedisiplinan, mereka sampai bilang kalau teknologi yang mereka capai saat ini adalah imbas dari kedisiplinan.
    itulah beberapa hal yang sangat menarik bagi saya dari pengalaman teman saya selama berada di jepang. Saya juga berharap bisa memperoleh pengalaman yang berharga seperti itu.

  8. begitu komplek permasalahan yang ada dan muncul pada bangsa kita. perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ada sudah dapat dinikmati dengan mudah dan kapan saja. kepedulian terhadap sesama sudah mulai luntur, antar tetangga, orang tua terhadap anak, guru dengan siswa, pemimpin dan bawahan dan lain sebagainya..

    waktu yang berjalan, iming-iming yang bersifat kebendaan dan materilitis, contoh-contoh kehidupan yang jauh dari kenyataan dan himpitan ekonomi atau keinginan untuk menjadi kaya dengan proses instan dsb membuat sifat adi luhung dan toleransi bangsa kita terpengaruh.

    menciptakan sistem kesadaran tanpa menciptakan keirian, menumbuhkan kepedulian dan memberikan contoh ketauladanan adalah tugas yang sangat mulia. orang tua tidak hanya menyuruh dan memerintah saja tetapi bangunlah didalam hati anak-anak kita jiwa yang besar dengan budaya ketimuran kita, luangkan waktu berbicara dan bercerita anak kita, jangan biarkan televisi, PS dan lainnya menjadi guru dan teman berbicara mereka.

  9. banyak makan mie instan kayaknya, sehingga pingin serba instans semua… hantam kiri dan kanan yang penting dapat…

    yang penting pokoknya… bagaimana caranya… ngak usah dipikir…

  10. di indoonesia sebenarnya sudah diajarkan. di smkn 1 panji, siswa selalu bersalaman kepada guru dimanapun berada. semula di ajara awal pelajaran siswa akan masuk kelas bersalaman kepada guru, juga ketika pulang.

    di keluarga juga begitu. orang tua selalu mengajari putra putrinya untuk salaman ( ikum ) kepada yang lebih tua. dimanapun ketemu, yang lebih muda akan salaman kepada yang lebih tua.

    dalam posisi jabatan. sepertinya ada budaya bahwa pejabat yang lebih rendah akan datang kepada pejabat yang lebih tinggi untuk salaman.

    jepang dan indonesia sepertinya sama, pak.
    hanya saja kalo jepang dengan budaya membungkuk sedangkan indonesia salaman.

  11. Yth Bapak GHP,

    Nyuwun ngapunten mbok menawi mboten sepakat kalih pendapat Bapak.
    Cuma penasaran saja, seandainya yang terjadi adalah sebaliknya. Misal seandainya coklat mestinya 4 dolar, tapi dibayar cuma 3 dolar.
    Kiranya demikianlah yang terjadi pada sebagian besar PNS, termasuk saya sendiri. Bahkan ada yg lebih parah lagi. Namanya rapel ga pernah dirasakan, meskipun kerja honorer puluhan tahun.
    Kiranya demikianlah hasil pendidikan yang berorientasi materi. Yg penting nilai bagus atau duit banyak…

    Bersama Pak Bag, kita pernah diskusi bersama, seandainya ada pendidikan budi pekerti yang berbasis exkul. So, siswa tidak perlu kuatir dengan nilai lulus/tidak seperti standard UAN, terutama bidang studi agama (yg kadang implementasinya lebih parah dari tidak beragama).

    Materinya diharapkan adalah aspek-aspek universal atau di Jerman lazim disebut Gemeinschaftskunde, dimana di Elektronikschule Tettnang dikemas dalam bidang studi Betriebliche Kommunikation.

    Mahasiswanya makin mawas setelah bisa melaksanakan TA di VEDC Malang dan sebaliknya.
    Matanya terbuka, bahwa dunia itu bermacam sistemnya. Tidak semuanya perfekt.
    Dan demikianlah hebatnya orang Indonesia. Dalam kondisi susah pun masih ada senyum, meskipun sedikit memaki : “jaaaangkriiiik….”
    Namun sayangnya, mahasiswa kita kali ini mungkin yg terakhir, karena isunya tahun depan tidak ada lagi program BU. Kitapun pusing memikirkan solusi yg tepat….

  12. hebat budaya di jepang,salam kenal,bagus isinya.trims

  13. @p zaenal, p amin, p kholiq, p dadang, p sutrisno,p agus, p effendi, p sadputra, frans..terimakasih masukannya, dan pendapat yg membangun…yg perlu kita fikirkan, karena kita bhineka tunggal ika, adakah budaya yg bisa di sebut budaya indonesia yg berlaku dari sabang sampai merauke yg kita sepakati bersama dan kita laksanakan seragam diseluruh indonesia utk nilai2 tertentu..?
    selain juga tidak menghilangkan budaya lokal..?…
    mugkin 5 karakter nasional yg seragam diseluruh indonesia , yg tidak memandang suku, agama, warnakulit, misalnya..atau bgmn indonesia 10 thn yad dr segi karakter yg khas indonesia..?.atau….? saran anda?

  14. open content belajar bahasa inggris, china boleh nih 🙂

    saya tunggu…

    tapi pendidikan dan kultur juga jangan kelupaan

    menarik mengenai mekanisme menghormati yang senior, sepertinya mulai luntur sekarang, gimana kalau ospect di hidupkan kembali dikampus

  15. semoga Bapak selalu dalam lindungan Allah SWT, saya selalu mencermati ketika Team dari PT. Puji Utami yang datang untuk menseleksi anak2 kami (smkn 1 bima) untuk magang ke jepang. Betapa santunnya mereka dan sangat menghormati guru di sini. ada kejadian yang menarik yang selalu saya perhatikan yaitu ketika orang jepang itu merokok, tidak ada abu rokok yang bertebaran di kolong meja n di sekitar kakinya. apalagi puntung rokok. jadi selama 6 jam mereka menseleksi, lantai di sekitar kakinya tetap bersih, padahal mereka full merokok. setiap abu dan puntung rokok mereka buang ke kantong yng mereka bawa sendiri. sementara guru yang menyaksikan, sudah berpuluh2 batang puntung yang menghiasi lantai di sekitar. ini sebenarnya menampar saya scr pribadi. sungguh hebat mereka dalam hal2 kecil yang kita selalu cuekin.

  16. Yth. Bapak GHP,

    Terimakasih atas respon Bapak.
    Nun, kiranya beberapa prinsip dasar mungkin bisa dipakai sebagai pedoman awal untuk diterapkan di sekolah-sekolah yang menyandang predikat SBI:
    – Cinta Air
    – Cinta Lingkungan
    – Ramah sikap
    – Keterbukaan
    – Kebersamaan

    Cinta Air dan Lingkungan kiranya adalah aspek global yang sudah dipegang oleh orang Jawa (contoh: Mbah Maridjan) maupun orang Dayak (suku Anak Dalam).
    Salah satu wadah yang mungkin bisa menjadi referenz bisa dilihat di : http://egmca.org:8080/

    Namun kiranya yg terpenting adalah penerapan teknologi yang mungkin dapat diaplikasikan sebagai penentu aspek sustainability (Bildung fuer nachhaltige Entwicklung => Education for sustainable Development, http://www.bne-portal.de/coremedia/generator/unesco/de/01__Startseite/Englische_20Startseite.html

    . Dalam hal ini yang mungkin paling sederhana dan sesuai dengan situasi-kondisi terkini kiranya adalah penerapan renewable energy.
    Katakanlah menyimpan air hujan untuk kebutuhan menggelontor WC, dimana pompanya menggunakan tenaga angin/matahari/panas.
    Katakanlah memilah sampah dan memanfaatkan sampah tersebut menjadi sesuatu yg sangat berguna seperti kompost (pupuk), hasil kerajinan ataupun daur ulang lebih lanjut, kembali menjadi plastik granulat.
    Katakanlah menanam rumput untuk pakan ternak (sapi) yang hasil olahannya kembali berantai (susu/keju/yoghurt, kulit, tlethong/energi/pupuk)

    Eh, syukur-syukur bisa dipakai sebagai media pendidikan ala PETRA (Projekt Entwicklung fuer Transfer orientierte Ausbildung), dimana database sistem jardiknas sebagai media informasinya…

    Eh, syukur-syukur tiap sekolah punya Klaeranlage untuk setiap jenis limbah sebelum airnya dibuang ke sungai.

    Sementara ketiga poin lainnya kiranya adalah aspek budi pekerti yang berkaitan dengan kejujuran, kedisplinan, tanggungjawab, dsb. Layaknya unsur management mutu yang terdapat dalam berbagai standardisasi, entah TQM ataupun ISO-9000.

    Kiranya 3 aspek tersebut perlu dirumuskan bersama sesuai dengan adat istiadat berskala Bhinneka Tunggal Ika. Karena sebagai orang Jawa, saya sesungguhnya lebih suka menghormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di dada dibandingkan salim atau membungkuk udang laksana orang Jepang.
    Atau menunjuk dengan menggunakan ibu jari dibanding telunjuk. Mungkin saja di Sumatra atau daerah lain kurang disukai…

    Berkaitan dengan sampah, mungkin akan lebih indah bila kita ingatkan milik bersama (udara, tanah dan air). Jadi bungkus yang sudah kita ambil makanan/minumannya, ya sebagai manusia “beriman”, harus kita bawa lagi untuk dibuang sesuai tempatnya.

    Bisa saja kita menggandeng Unesco dan CIM-Expert di UI (Ibu Margaret Gfrerer) untuk implementasi lebih lanjut.

    Demikian Pak, sedikit ide. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan….

  17. assalamu’alaikum wr. wb.
    dear pak gatot

    memang negara kita harus banyak belajar dari negara luar pak.
    tidak usah sampai negara jepang pak, kita bisa juga belajar dari negara tetangga malaysia, pada waktu tahun 70-an banyak menyewa guru dari indonesia, tetapi sekarang kita lihat negara mereka lebih maju dari negara kita, terutama dari kebersihan dan kedisiplinan mereka.
    menurut saya, mental tersebut dimulai dari masyarakat terkecil, yaitu rumah tangga.
    sebuah rumah tangga harus menciptakan keturunan yang disiplin, jujur, bersih, hormat pada yang lebih tua dan sayang pada yang lebih kecil.
    dan sebenarnya itu sudah ada pada diri dan masyarakat pedesaan yang ada di indonesia, tapi kebiasaan baik ini akan hilang jika mereka pergi ke kota.
    hal ini disebabkan oleh pemerintahan kita yang sudah bobrok plus media cetak dan media elektronik yang selalu mengutamakan peningkatan oplah (laba yang besar) sementara tidak memikirkan kualitas dari isi media tersebut.
    jadi peran dari pemerintahan (pejabat) harus jadi contoh dan media juga harus bertanggung jawab untuk mengembalikan sifat masyarakat pedesaan indonesia yang polos, lugu tersebut

  18. Maaf cuma test aja….

    Soalnya udah nulis usulan panjang lebar, tapi tampaknya bounced (termoderasi)

  19. Yth. Bapak GHP,

    Pernah kita coba usulkan siaran pendidikan “Die Sendung mit der Maus”.
    Karena tak ada respon, kami coba iseng hubungi redaksi WDR (West deutsche Rundfunk).
    Menurut mereka, untuk Vertrieb nya LN harus menghubungi Bavaria. Tapi sayang sampe hari ini belum ada respon lagi.
    Yach, kami ga bisa menjanjikan alokasi anggaran untuk membeli lisensi…
    Mungkin juga mereka bertanya dalam hati “siapa sih elo?” 🙂

  20. @zaenal, saya kira anda bisa memakai jalur sekolah tetnang anda secara resmi..knp tidak
    @olan …menarik apa yg terjadi di derah anda, knp tidak kita anggap persiapan utk ke jepang..trtm disiplin kebersihan utk lingkungan sekolah…..di taiwan, ada sekolah yg mengharuskan setiap pagi siswanya 30 menit utk bersama kerja bakti membersihkan sekolahnya…artinya utk kebersiahan ybs, sekolah dan pembentukan karakter masa depan anak2 tsb…
    @afdal , memang perubahan trjadi karena salah satunya media yg terlalu bebas dan kadang2 nilai2 ethik tidak di pedulikan….tapi apa yg terjadi saat ini adalah hasil kita bersama bbrp thn yl…mungkin kita prlu luruskan dan usahakan lagi hal2 yg baik utk generasi yad..Amien

  21. Orang nDeso mo Ikutan gabung pak Gatot HP,
    Setelah saya membaca2x tulisan dan komentar2x di atas, yang perlu di mulai adalah berbuat baik denga diri sendiri dulu, kemudian keluarga dan lingkungan kita, Ibtad binafsi. Terus konsep tawazun harus di pegang juga.

    NH

  22. Yth. Bapak GHP,
    Sebelumnya mohon maaf jika kesannya membantah atau mendebat. Sungguh tak ada niatan sedikitpun.
    Kiranya perlu kami sampaikan, bahwa sikon di Tettnang sudah berubah banyak. Harus jujur diakui, bahwa saya gagal menata kembali image yg merosot sejak 2005.
    Pergantian pucuk pimpinan, friksi dan kepentingan intern masing-masing institusi kadang menyeret kami terlibat. Kita bersyukur jika tahun mendatang kerjasama masih berlanjut. Namun highlight bantuan seperti di tahun 2005 mungkin tinggal mimpi. Kita belajar pentingnya menjaga image…

  23. Mohon maaf singkat saja agar tidak termoderasi :

    5 Karakter nasional tersebut kiranya adalah :
    – Cinta Air
    – Cinta Lingkungan
    – Ramah sikap
    – Keterbukaan
    – Kebersamaan

    Adapun tujuan akhirnya adalah sustainability seperti di :
    http://www.bne-portal.de/coremedia/generator/unesco/de/01__Startseite/Englische_20Startseite.html

    Wassalam dan terimakasih

  24. Lalu apa sebenarnya yang harus kita lakukan untuk negara ini agar lebih baik ?, hanya ada satu yang perlu kita lakukan untuk indonesia agar memiliki disiplin yang tinggi, bagi yang melanggar hukum termasuk korupsi harus dihukum mati. Karena itu perusak moral bangsa yang merusak dari dahan sampai akar dinegara ini. Ada yang mampu ?, apa lagi bunuh diri karena melakukan kesalahan yang diperbuatnya…malah kebanyakan lari. …itu yang membedakan kita dengan jepang…., tidak disiplin dan tidak malu…, harusnya sudah jelas kalau mau membenahi orang-orang di indonesia dari mana kita mulai….Tapi di indonesia itu siapa ?, mungkin lebih baik kita awali dari diri sendiri..hitungannya butuh waktu berapa tahun untuk itu ?

  25. Thx 4 share Pak Gatot, dulu saya hanya mendengar nama Bapak dari Pak Basuki, Pak Kwarta, serta Pak Jarwanto, sewaktu kita satu tim di IT-KPU Pemilu 2004. Alhamdulillah sekarang bisa silaturahmi di blognya 🙂

    Sepakat, perlu ada karakter bangsa yang diangkat, sebab sesuatu yang mengakar akan lebih mudah dipahamkan, awet, dan cost social-nya relatif lebih kecil.

    Setiap bangsa/budaya tentu mempunyai karakter yang menonjol. Tinggal bagaimana meledakkan karakter tsb menjadi kontributor produktifitas. Kalau karakter individu, saya cenderung kepada pemikiran Bapak Rama yang menggagas Talent Mapping. Untuk lebih jauh mungkin bisa ke link ini http://www.abahrama.com/leadpro/?page=product

    Kembali ke soal karakter bangsa, saya berasal dari budaya Jawa (Arekan/Malang), dan kini bersuamikan Sunda menak sehingga berinteraksi dg kebudayaan Sunda. Secara umum karakter yang teramati :
    1. Ramah : hangat (sapa, senyum) kepada orang lain, mungkin karena cahaya matahari yang melimpah 😀
    2. Pandai bertutur/berbahasa : ekstrimnya adalah pandai berbasa-basi. Tapi jangan dinafikkan, bisa jadi negosiator ulung kan 😀
    3. Terampil : sangat unggul untuk barang-barang handmade
    4. Patriarki : cenderung manut dan nurut, apalagi kepada patron seorang bapak (termasuk atasan, juragan, tokoh, pemimpin negri, public figure, artis juga).
    5. Toleran : ruang tolerannya luas sekali. Itu pula sebabnya cenderung dapat menerima semua budaya baru. Jeleknya adalah kebablasan menerima budaya ala Amrik-Hollywood yang ga benernya.

    Mungkin karakter menonjol suku yang lain berbeda, tetapi karena jumlah penduduk sunda-jawa dominan, apalagi jg dominan di birokrasi, jadi itu yang kental teramati.

    Pertanyaannya, apakah karakter2 diatas cukup mampu membuat bangsa ini maju (sejahtera)???

    Menurut saya, karakter Patriarki & Toleran dapat ‘dimainkan’. Yaitu kecenderungan masyarakat untuk mencontoh dan adaptif terhadap budaya baru. Di sini kuncinya adalah membuat para suri tauladan (tokoh, pimpinan) menelorkan, menciptakan, mensosialisasikan gaya, karakter, kebiasaan, mental, yang dibutuhkan untuk maju (sejahtera). Misalnya, kurang disiplin, maka di desain dari pimpinan yang mengisukan (dan mencontohkan) kedisiplinan. dst..dst… Poinnya, masyarakat diinjeksi budaya ‘baru’ jika belum ada, yang dibutuhkan untuk maju (sejahtera), dengan mempergunakan karakter khas manut & toleran.

    Maaf kepanjangan….

  26. Yth Bapak GHP,

    Mohon maaf, agak nyleneh.
    Hasil merenung semalam adalah, bahwa Bapak punya wawasan sangat luas, berpendidikan demikian tinggi, pengalaman sangat banyak dan (maaf) kiprahnya luar biasa kalau tidak boleh dibilang gila 🙂

    Menurut pendapat saya, cocoknya Bapak adalah salah satu calon Presiden RI. Ini serius, Pak….

  27. Budaya Indonesia yang beraneka ragam memang terlihat seperti layaknya sebuah lapangan yang luas. Kita terkadang melihat sesuatu yang terbentuk dari asas pikiran kita. Dimana di luar negeri mereka mempunyai sifat yang baik dan menghormati dan di negara kita karena kita melihat setiap hari maka yang teringat pada memori otak kecil kita adalah sesuatu yang buruk. Jika saja kita mengambil kacamata orang Jepang itu sendiri mungkin akan berbalik 180 derajat tentang pandangan kita terhadap budaya kita. Jadi menurut saya ini hanya masalah pengambilan sudut pandang saja. Bukan karena budaya kita yang kurang baik.

  28. Membaca artikel Bapak sebagai guru saya sedih sekaligus senang. Sedih karena kondisi yang terjadi di Jepang sangat berbeda jauh dengan di Indonesia. Apa lagi jika kita kaitkan dengan nilai-nilai agama yang ada di Indonesia. Dalam hal menghargai senior/pimpinan, kejujuran, dan sebagainya yang Bapak ceritakan, bagi bangsa Indonesia sudah banyak nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak nenek moyang kita. Katakan saja istilah orang Jawa yang berbunyi “Tepo sliro” yang arti bebasnya “kalau kita merasa sakit ketika mencubit diri sendiri, maka jangan mencubit orang lain”. Implikasinya bila kita sakit dibohongi maka jangan membohongi orang lain, dan seterusnya. Tapi semua itu hanya tinggal slogan, karena yang namanya KKN sudah mengakar mulai sejak SD (bahkan TK). Saya merasa senang, karena setidaknya ini memotivasi saya dalam melaksanakan tugas. Terima Kasih, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

  29. Saya pernah berkunjung beberapa hari di Jepang, dan d Jepang Budaya Jujur, Tepat Waktu, Disiplin/Tertib/Antri, Rajin, Mandiri, dapat dilihat dimana-mana, Saya punya pengalaman yang menarik ketika belanja makanan/ cemilan dan harga makanan tsb di discount , menariknya adalah setiap pembelanjaan untuk makanan yang diberi discount tersebut hanya boleh dibeli untuk 2 kotak/ orang, artinya Saya hanya diperbolehkan membeli 2 kotak saja , kalau lebih mereka minta kita mengembalikan ketempatnya ( apa makna yang Saya dapatkan dari hal tersebut? adalah budaya untuk hidup secukupnya/ hemat, dan harga discount disana murni benar-benar harga discount bukan seperti di Negaraku ini harga di markup dulu 100% baru didiscount ), Saya melihat kejujuran mereka dalam memberikan kualitas barangpun dilakukan dengan cara cekbody barang dilakukan dengan teliti terhadap barang yang kita beli sebelum pembeli membayar ,,jika terlihat sedikit saja cacat padahal tak terlalu kelihatan oleh mata Saya maka mereka akan berikan gantinya, Luar Biasa… sebenarnya Bangsa Indonesiapun bisa …..asalkan setiap Pemimpin Negara, Organisasi,dll ) dapat menjadi pionirnya dulu yang lainnya ( Masyarakat, Anak buah ) akan mengikuti/ mencontoh, Ok… Bangunlah Bangsaku Mental / Budaya/ Attitudemu, M E R D E K A.!!!

  30. Saya pernah berkunjung ke Korea Selatan pada tahun 2007 untuk mengikuti International Earth Science Olympiad. Ya…tidak jauh berbeda dengan jepang, korea pun sangat memperhatikan kebersihan lingkungan. Sungguh luar biasa. Banyak hal seperti ini yang harus kita contoh….bukan berarti kita menjelekkan negeri ini dan mengagungkan negara lain. Tapi. memang kita harus banyak belajar dan harus tahu malu…… Malu karena kita adalah bangsa yang masih terbelakang. Pelajarnya saja bodoh-bodoh. Kerjaannya hanya bermain-main. Tak bisa berprestasi dan tidak bisa menghasilkan sesuatu untuk bangsa ini…..

  31. I should email you about it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: