gender n fasilitasi training dan kuliah ibu2 rumah tangga di sekitar anda

setelah kita merayakan lebaran, dan b erkunjung ke saudara, kita sdh kembali ke lingkungan masing2…, saat ini sdh banyak sekolah yg tersambung internet, dan banyak hal yg sdh dapat di unduh dgn cepat dan murah. saat ini banyak ibu2/sdrikita/ yg kurang mendapatkan peluang utk meningkatkan pengetahuan serta kompetensinya setelah mereka berkeluarga atau karena kekurangan biaya atau tempat yg di inginkan.

mungkinkan ada suatu percontohan, dimana para iburumah tangga di beri peluang utk belajar siang sore hari di tempat2 terdekat…misalnya di smp yg di lengkapi dgn tv edu, maupun internet dgn mt pelajaran2 tertentu dan ada ujiannya, serta ada penanggung jawabnya….sehingga mereka mendapatkan pengetahuan atau ke trampilan yg di perlukan ooleh lingkunngannya… di cuba, ibu rumah tangga juga bpk2, siang hari di undang ke smp utk kuliah sore ahri, 4 jam / hari, sama dgn uni trerbuka, memanfaatkan tv edu mereka serta dosen setempat, utk meningkatkan pengetahuan mereka…., dan mereka di biaya subsidi trqnsportasi us 5/bulan. setelah 3 – 4 tahun mereka mendapatkan bsc sesuai dgn pilihan mereka…bgmn pendapat anda klo di indonesia kita coba mulai dgn pola sejenis..?..

mungkin di daerah anda disekitar sekolah yg sdh tersambung dgn jardiknas, mulai bisa di lakukan dgn sinergi dgn ut, univ yg menjalankan pjj atau lembaga training lainnya….atau

kita usulkan bersama pada pimpinan daerah tersebut utk mendidik masarakat dengan ilmu2 yg menghasilkan penghsilan tambahan serta mempunyai peluang bekerja di rumah atau di tempat baru atau menciptakan lapangan kerja baru dgn membuat jasa2 yg bisa dilakukan di rumah…

atau mungkin anda punya ide..yg baru…agar ibu2 atau suami atau anggota keluarga yg sedang tidak aktif di rumah bisa mendapatkan kegiatan baru..utk meningkatkan kompetensi nya serta mempunyai peluang  kerja baru..?

long life education..adalha yg di dorong oleh unesco dalam konvensi dakar nya…yg merupakan hal yg perlu kita fasilitasi utk semuanya…

kita melihat, klo ibu2 atau suami2 yg di rumah bisa mendapatkan hal2 baru,  akan terjadi keluarga yg terupdate terus menerus….dan tidak ketinggalan informasi terbaru..yg bermanfaat..

bukan berarti klo sdh berumah tangga , kesempatan utk menimba ilmu akan berhenti..?..justru setelah berumah tangga kesempatan mencari ilmu harus lebih giat lagi utk merubah nasib masing2 individu…

tidak aada istilah terlambat utk belajar…..tidak ada istilah terlambat utk berubah enjadi lebih baik…

tidak ada istilah terlambat utk menolong sesama tetangga yg membutuhkan info/pengetahuan/serta peluang2 yg baik agar nasibnya berubah…

mari kita siapkan dan usahakan bersama, di mulai dari lingkungan kita sendiri…, ibu2 atau suami atau keluarga yg berlatar belakang pendidikan dan karakter yg baik akan menghasilkan generasi muda yg lebih baik lagi…

selamat mencoba dan saran2 nya kita tunggu… terimakasih..

Iklan

6 Tanggapan

  1. saya sih pinginnya gmn para ibu2 lebih dulu mencerdaskan rumah tangganya dari hal2 yang paling kecil dan mungkin dianggap sepele oleh banyak orang… misalnya membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan dan penampilan anak2nya (bersih dan rapi, bukan mewah!), dll sejenis itu. soalnya saya sebel harus membersihkan selokan saban minggu sementara para ibu lainnya cuek aja membuang botol2 kosong sampah rumah tangga ke selokan… udah dibilang berkali2 dengan baik2 masih aja ga ngerti… kata mereka: kan ntar dibawa aliran air juga pas musim hujan gini… gila!

  2. Saya sangat tertarik dengan pola invasi pengembangan model pendidikan spt ini.
    Mungkin ini agak lepas dengan pakem konvensional pola pendidikan kita pada umumnya, akan tetapi bukan tidak mungkin untuk di wujudkan.
    Sebenarnya pola penambahan “wawasan dan ilmu pengetahuan” oleh Ibu-ibu di Indonesia sudah sebagian terlaksana dengan contohnya ada kegiatan PKK, Kelompok Tani, Perhimpunan-perhimpunan dan lain sebagainya………., masalahnnya mereka bergerak sendiri-sendiri di masing-masing wilayah dan tidak ter administrasi “mungkin” secara resmi sebagai organisasi yang resmi oleh daerahnya sendiri.
    Hal yang patut di fikirkan juga adalah bagaimana cara agar mendapat pengakuan untuk masuk dalam legitimasi pendidikan indonesia sekarang ini? pastinya harus melibatkan banyak pihak dan duduk bersama sehingga tercapai kemufakatan karena memang ini bukan ide yang mustahil untuk diwujudkan……..
    Pemikiran Bapak seperti ini contohnya, sangat perlu untuk mencerdaskan budaya bangsa. karena banyak pihak yang mersa “skeptis” dahulu dalam melihat sesuatu yg baru.
    “Perubahan pasti terjadi,.. hanya sola Waktu!”
    Dan juga, perubahan ke arah perbaikan diri individu dan masyarakat harusnya menjadi tanggung jawab kita bersama!

  3. Salam Kenal, Minal Aidin wal Faizin.
    Sebuah pemikiran yang bagus! dan itu sebagai amal sholeh. Di Lembaga Pemerintah ada sebuah lembaga yang menangani pemberdayaan masyarakat, bidang gara[panya adalah mengadakan pelatihan life skill dengan pemberdayaan lokal, namun saya melihat masih terbatasnya anggaran yang ada dilembaga tersebut sehingga coverage quantity peserta sangat terbatas. Kegiatan yang dilakukan sepengetahuan saya diantaranya pelatihan stek, /pertanian, budidaya lele, Potong rambut, menjahit, bordir. Bahkan di nakertrans ada program life skil yang bekerjasama dengan beberapa SMK di sekitar untuk menyelenggarakan pelatihan siap kerja, kebetulan SMK kami juga sebagai tempat pelatihan yang progran ini tiap tahun ada 2 termin.
    Para peserta dibekali dengan alat2 yang disediakan nakertrans dan dihibahkan setelah pelatihan selesai. Materi yang diberikan melalui smk 2 kendal yaitu : Las, service sepeda motor, Elektronika, Teknik Kayu (Membuat meja dan kursi) Peserta memang dibatasi usia,
    Namun saya setuju dengan ide Pak Gathot untuk memberikan tambahan bekal ilmu yang marketable untuk para bapak dan ibu rumah tangga yang sedang tidak punya aktivitas pekerjaan.
    Best Regards
    Shofyan dari Kendal.

  4. Penambahan pengetahuan baik formal maupun informal sangatlah bagus. Apalagi ditujukan pada ibu-bu rumah tangga (jangan terkontaminasi dengan ibu-ibu karier) sebagai sumber pertama pendidikan bagi generasi muda. Jadi penambahan pengetahuan ini memiliki tujuan jangka panjang, agar ibu rumah tangga dapat mendidik putra-putrinya menjadi manusia indonesia seutuhnya. Perlu dibakukan MATERI yang diberikan terutama pengetahuan yang terkait dengan pengembangan attitute. Saya kira pemberian materi dapat dilakukan di mana saja, di Sekolah atau di Kampus atau di kantor Kalurahan/Desa, di rumah masing-masing? Ya bisa di mana saja. Universitas Sahid Surakarta SANGAT mendukung. Terima kasih.

  5. saya sangat-sangat setuju… BISA NGGAK PROGRAMNYA SAMPAI KE INDONESIA BAGIAN TIMUR yaitu Kabupaten Maluku Tenggara Barat di Daerah Perbatasan yang rawan dan masih terkebelakang multidimensionalnya…
    makasih… dari
    ERNES (Pendamping ICT Kab. MTB/Saumlaki)

  6. memang benar dengan mengunakan program tersebut bisa meningkatkan pengetahuan, namun mengingat pepatah buku adalah jendela dunia, mak di sarankan selain dengan menggunakan TV education, mungkin bisa di tambahkan juga dengan menambah buku-buku di derah-daerah yang masih membutuhkan secara berkisnambungfan bisa secara hard, ataupun soft.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: