perubahan mindset para ortu

ear bu melly dan bu rini dkkm

dari dialog antara 2 ibu2 ini sangatlah menarik apa yg terjadi di masyarakat kita, kesadaran akan mempunyai kopetensi yg lebih terhadap bahasa serta ilmu lainnya, ini emegang peranan penting utk anak2 kita…

tambahan jam belajar utk bhs, matematika, it dll yg di anggap penting dalam menyiapkan anak2 kita siap masuk dan bersaing dalam dunia kerja, adalah upaya ortu dan sekolah yg bisa lebih disinergikan…

sebagai contoh kami pernah mendesain sekolah magnet school yg sekarang jadi insan cendikia di serpong dan gorotalo…targetnya adalah masuk umptn wkt itu, yg kami rubah mafiki bi nya kita doblekan jamnya dan agamnya kita tambahkan, akibatnya jam bertambah dan anak2 di asramakan.. tentu resiko nya biaya operasi tinggi..gurunya juga terpilih dan dan tinggal di sekolah, serta di biayai dgn baik…..
angkatan 1 95 % masuk umptn..dari target 80 %, tapi brp jumlah per angkatan..? cuman 75 siswa..total sekolah siswanya 225 siswa, setiap kelas hanya 25 siswa, mempunyai kegiatan sekolah dari 4 30 – 22 00…
dan biayanya dulu di tanggung oleh islamic bank selama 8 tahun, kita mulai thn 1994, sekarang klo tak salah 800.000/bln spp nya…mungkin lebih saat ini..lebih dari itu..karena di asramakan..

ini contoh bhw pendidikan yg baik harus ada yg ebiayai lebih entah siapapun , pemerintah atau orang tua..krn di perlukan jam yg lebih dari yg ada..seperti di korea, jepang..sejak sd yg berjuang utk endorong pelajaran tambahan adalah orang tuannya, agar mereka dapat masuk pada uni yg terkenal, dan dimn setelah lulus jaminan kerja lebih baik….

di tapanuli, di mindset ibu2 tapanuli adalah menyekolahkan setinggi mungkin anak2nya…bahkan ada lagunya yg menyemangati utk melakukan hal tersebut…dari tim ui yg melakukan studi antropologi..ui yg pernah cerita ke kami, juga dari penelitian meeka dalam suatu populasi 1000 orang tapanuli dan 1000 orang jawa, % tase yg lulusan sarjana banyak yg dari tapanuli….

sekarang bagainana caranya di pikiran ibu2 indonesia itu , bisa di tanamkan mindset yg mendorong anak2nya kuliah setinggi mungkin, kompeten bahasa 2-3 bahasa, dan menguasai hal2 baru …? ini kerjaan tidak mudah…perlu suatu rekayasa sosial yg sistematis agar bangsa ini enjadi bangsa yg pembelajar dan mau memperbaiki dirinya terus menerus…

gmn kawan2 solusi dan masukannya nya…. aku tunggu di gatothp2000.wordpress.com..utk kita kopilasi dan berbagi ilu kepada siapapun yg ingin maju..

perubahan taraf hidup/tingkatan sosial secara vertikal, di sebabkan oleh pendidikan yg vertikal, semakin tinggi seseorang mendapatkan pendidikan, peluang mendapatkan pekerjaan semakin baik..

terimakasih ya…

ghp

— In klubguruindonesia@yahoogroups.com, melly kiong wrote:
>
> Dear Bu Rini yang jauh lebih hebat,
> Waduh saya mendapat masukan yang sangat luar biasa dariseorang Ibu hebat sepertiBu Rini.
> Terima kasih banyak yah Bu. Saya bersyukur ada pandangan yang sangat baik dari ibu.
> Yang saya maksudkan adalah les pelajaran Bu. Dan fenomena dari orang tua disekitar rumah saya banyak yang merasa tidak mau repot, dan mereka menyerahkan ke bimbel.
>
> Saya juga setuju sekali bahwa bahasa itu sangatlah penting, saya bisa bekerja dengan baik karena saya sedikit menguasai bahasa asing.Dan karena itulah saya meminta anak saya untuk belajar bahasa Inggris dan Mandarin. Karena dalam berkomunikasi di Era Global , dua bahasa ini sangat diperlukan.
>
> Selamatyah Bu, anak Ibu begitu hebat, pasti bangga rasanya punya anak yang berprestasi.
>
> salam
> melly kiong
>
>
>
>
> ________________________________
> From: Masrini Dani
> To: klubguruindonesia@yahoogroups.com
> Sent: Saturday, March 28, 2009 7:05:12 PM
> Subject: Re: [Klub Guru Indonesia] Obrolan dengan anak bagian I
>
>
> Mbak Melly yang hebat,
>
> Saya jadi malu ati nih ! Karena saya termasuk salah satu ibu yang “ngelesin” anak2 saya.
> Tapi bukan mau cari gampangnya lho ! Pasalnya saya super bego Matematika. Saya baru kenal Matematika ketika di SMA. Sewaktu di SD dan SMP masih berhitung. Nah karena saya merasa Bego Matematika, terpaksa saya leskan anak2 saya.
>
> Bukan cuma matematika, saya juga leskan mereka Bhs. Inggris. Tapi bukan karena kami sebagai ortu nggak bisa bhs Inggris, melainkan karena si anak yang merasa “butuh” berkomunikasi dlm bhs tsb dengan teman sebaya mereka, yang tempatnya ya di tempat les krn di skul tdk memungkinkan.
>
> Walhasil, Alhamdulillah, anak gadis saya (skrg19 th), nilai raport bhs Inggris dan Matematikanya 10. Waktu di kelas 2 SMP berhasil meraih 1 juara Bhs Inggris Tk prop Banten, dengan score TOEFL 567, sekarang di semester 6 Fak Kedokteran UI msk melalui jalur PMDK ; anak saya yang ke 2 (16 th), nggak jelek2 amat. Sekarang kls 1 di SMK Bakti Idhata, rangking 2 di kls dan baru saja meraih juara 1 lomba merakit komputer se DKI Jakarta, meski sy sama sekali tidak pernah meminta apalagi memaksa mereka jadi juara, krn bkn itu yg terpenting bagi kami.
> Sy hanya selalu berusaha benar2 berkomunikasi dg mereka sambil terus memberi semangat dan arahan.
> Itu saja.
>
> Mohon maaf beribu maaf bukan maksud sy membanggakan diri. Semua tentunya adalah karunia Allah SWT yg sangat kami syukuri. Saya cuma seorang guru dan seorang ibu biasa yg cuma ingin mengatakan bahwa tidak selamanya membiarkan anak pergi les itu berarti ortu mau nggak punya semangat juang atau cari gampangnya saja.
>
> Terima kasih.
> Sekali lagi mohon maaf jika saya salah. Maklum masih belajar.
>
> Salam,
> Rini
> — On Wed, 3/25/09, melly kiong wrote:
>
> From: melly kiong
> Subject: [Klub Guru Indonesia] Obrolan dengan anak bagian I
> To: klubguruindonesia@ yahoogroups. com
> Date: Wednesday, March 25, 2009, 1:38 AM
>
>
> Teman teman guruku,
>
> Mengingat beberapa hari ini banyak sekali guru yang membicarakan tentang persiapan UN,
> Saya tergelitik untuk ngobrol sama anak saya yang akan mengikuti ujian akhir kelas VI SD.
> Selama ini saya tidak ada waktu dengan anak , dan mereka belajar seadanya waktu saya.
>
> Jadi saya sangat menaruh harapan besar kalau Guru di sekolah sudah mengajarkan dengan baik kepada anak anak saya.Minimum mereka mengerti bahan yang diajarkan. Soal nilai bagi saya bukan yang terpenting buat saya.Karena dari dulu saya juga bukan sang juara. Alasan ini juga yang membuat saya memutuskan tidak akan memberikan les pelajaran buat anak anak saya.
>
> Iseng saya bertanya:
>
> mama : Nak apakah kalian mengerti pelajaran yang diterangkan oleh guru guru kalian ?
>
> anak : Iya mama.
>
> mama : Kenapa bisa begitu ?
>
> anak : karena gurunya yang hebat dalam mengajar.
>
> Sungguh luar biasa guru guru anak saya. Tetapi saya bertanya kembali dalam hati kenapa juga teman teman anak saya yang orang tua mereka tidak bekerja, lulusan S1 tetap membiarkan anak anaknya pergi les pelajaran ??
> Apakah pertanda orang tua sekarang juga tidak punya mental juang ? mau yang gampang ??
> Bagaimana dengan anak anaknya????
>
>
> Salam Peduli Anak Bangsa
>
> melly kiong
>

Iklan

2 Tanggapan

  1. Betul sekali pak, Mindset para ortu di Indonesia harus berubah seiring dengan perubahan jaman. Sekarang persaingan untuk mendapatkan sekolah bermutu sangat besar, demikian juga persaingan untuk mencari pekerjaan juga sangat ketat. Untuk itu semua orang tua harus menyiapkan anak-anaknya agar mampu bersaing.

    Tapi akhir-akhir ini kelihatannya para ortu sudah banyak berubah koq pak. Seperti saya misalnya, kalau saya itung-itung cost yang dikelurkan untuk membiayai anak saya yang masih SMA kelas 1, sudah mencapai bilangan 500 ribu ke atas. Selain belajar disekolah anak saya juga les di luar sekolah satu minggu penuh, mulai bahasa inggris, matematika, fisika, kimia dll. Hal ini juga dialami para ortu yang anaknya disekolah favorit, berapapun biaya yang diminta pasti akan dibayar.

  2. Yth Bapak GHP,

    Saya kira setiap ortu akan sangat senang, jika anaknya bisa sekolah sedemikian tinggi. Namun di sisi lain, kita mestinya sangat sedih. Lha sekolahnya sedemikian tinggi, tapi kok ngga kompeten blassss…????
    Tata ruang desa Gintung dan wilayah situ-situ lainnya rawan bencana jebol. Namanya peloran sepeda aja masih diimpor. Sampah di TPA-TPA sudah melampaui ambang batas ketinggian.

    Kalo kita review di Jerman, nih Pak. Sekolah itu buuuanyak banget liburnya. Materinya ngga semuanya detail. Tapi yg penting ngajarnya ngga bertele-tele….

    Saya kira anak sekolah bukanlah gentong yg ga bisa penuh. Mereka perlu materi pembelajaran yg pas dengan kebutuhan hidup.

    Dari sudut pandang tsb, kami kadang berpikir, apa ngga sebaiknya balik lagi ke kurikulum 75 saja kah ?????

    Terimakasih dan maaf jikalau statement kami membuat tersinggung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: