menolong tetangga maupun lingkungan utk kuliah berbasis produksi

dear all, unas sdh di umumkan, banyak siswa slta kita bertanya pada dirinya sendiri ..akan kemanakah saya meneruskan pendidikan ini dgn biaya yg terjangkau dan ada garansi lapangan kerja bila nanti lulus…mungkinkah aku bisa kuliah lagi…mungkinkah aku akan mendapatkan gaji yg layak bila akusdh selesai kuliah nanti…apakah ilmunya berguna utk masyarakat dan industri bila aku sudah selesai kuliah nanti…dan…dan…seribu pertanyaan yg menghantui setiap anak2 kita yg gamang nenapakkan kakinya utk memulai masa depannya…yg kadan tidak terlalu jelas….
mungkin ini hanya salah satu gambaran dari generasi muda dimanapun juga dalam melangkahkan kaki nya setelah slta….

sebagai orang tua..kemana saya harus menyekolahkan anak saya dan berapa harus saya siapkan dana..agar anakku bisa kuliah dan bisa mendapatkan pekerjaan yg bisa menghidupi keluarganya nantinya..?
orang tua yg mampu dan punya akal yg sehat, selalu mendorong anaknya utk mengikuti pendidikan setinggi mungkin agar bisa masuk sistem yg ada dimanapun, apakah kabupaten, propinsi, negara atau internasional…masing2 sistem membutuhkan skill yg berbeda dan jurusan yg berbeda…


indonesia mempunyai penduduk yg banyak, dimana setiap tahun ada 4 – 5 juta anak2 sltp, slta yg masuk pasar kerja…, dan sampai saat ini mungkin ada lebih dari 40 – 50 juta tenaga kerja potensial yg sdh dalam sistem , dan mempunyai skill yg terbatas..karena mereka tidak mendapatkan kesempatan mengasah pengetahuan dan skill nya secara sistematis…krn tempat terbatas…

aset bangsa ini , alangkah indahnya bila bisa di poles lagi sehingga mempunyai kemampuan yg lebih tinggi daripada sebelumnya, sehingga dapat peluang kerja yg lebih baik di daerahnya atau di luar daerahnya…

mungkijnkah mereka itu kita didik lagi menjadi insinyur yg disesuaikan dengan kebutuhan pasar..dgn biaya terjangkau dan dengan lokasi yg bisa dilakukan dimana2..?

mungkinkan ada suatu jejaring..yg mempunyai standar tinggi, sehingga bisa mendidik setiap orang, dan menguji setiap orang sesuai dgn kebutuhan pasar..?..klo kita punya jejaring pendidikan atau learning center yg mempunyai kwalitas tinggi dan mempunyai standar yg sama , dan bisa mendidik atau melatih dengan biaya yg terjangkau..

kalau semua bahan ajar, atau training atau dosen/guru yg mempunyai kwalitas tinggi bisa di sebarkan ilmunya dengan biaya yg terjangkau serta teknologi yg relatif murah…mungkin percepatan ini akan terjadi…

andaikan ada 1 poltek disetiap kabupaten yg trjaring dalam suatu sistem sehingga bisa mendidika jurusan apa saja di setiap kabupaten/kota, sehingga semua orang bisa belajar apa saja di mana saja…alangkah indahnya…; hal ini bisa kita lakukan kalo kita mau bersatu dan berupaya menolong sesama kita dilingkunga kita utk mau merubah nasibnya dgn menaikkan skill dan pengetahuannya…

ijasah atau skill? yg di perlukan..? atau kemungkina berproduksi dan menyiapkan keperluan sendiri utk keperluan makan dan papan nya..?
klo semua pembelajaran 50 % adalah utk berproduksi apapun juga sesuai dengan keperluan kehidaupan ybs…dan sisanya utk meningkatkan kemampuan berbicara, maupun sosial skill nya…, mungkin akan banyak orang yg bisa kerja baik utk orang lain atau mandiri….atau pindah ke negara lain…

klo india ada IIT di 7 lokasi, mungkin kan ITB atau ITS berada di setiap propinsi di indonesia…? dan bersinergi dgn uni di luar yg baik, dan 50 % di ajarkan dalam bahasa asing..?
kenapa bahasa asing…indonesia mempunyai penduduk cukup besar, bila sebagian besar menguasai bahasa asing….kemungkina mobilisasi ke tempat 2 yg lain akan lebih mudah dan akan mendorong peluang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik…

adalah dosa kita semua bila kita tidak dapat menolong rakyat kita atau keluarga kita sendiri utk bisa mandiri, atau dalam hal yg lebih besar…bila negara tidak dapat menyediakan lapangan kerja serta pendidikan dan kesehatan yg baik utk warganya….siap2 utk runtuh aja pemerintahan nya, seperti yg terjadi di afrika, bgt pemerintahnya tidak kuat, programnya tiak kontinu..

bagamana kita bisa memandaikan orang lain, dan kita sendiri juga menjadi lebih baik daripada sebelumnya…banyak hal yg harus kita pikirkan dan lakukan bersama…, bagaimana meningkatkan kepandaian generasi muda atau sekarang agar lebih baik drpd generasi sebelumnya, sehingga indonesia makin baik dan makin makmur dan tidak di akali yg pandai terus menerus..?bgmn kita bisa semakmur singapura, walapun penduduknya banyak…

pendidikan adalah power perubahan suatu bangsa, dgn kwalitas pendidikan yg tinggi dan cepat, mungkin kita bisa mengurangi ketertinggalan kita…kita nggak ingin seperti jerman atau amerika…tapi mungkin seperti jepang dgn tidak meninggalkan cultur indonesia…

kita negara kepulauan yg tidak mudah utk mengaturnya…

ini pikiran yg selalu berkecamuk di kepalaku sampai saat ini..

saran…?

aku tulis di perpustakaan ohio university athens, 19 uni 2009..

aku tunggu masukannya…

Iklan

15 Tanggapan

  1. mungkin kita bisa mulai dengan rt-rw-education . Saat ini pendidikan identik dengan sekolah, tempat dimana setiap orang dapat menuntut ilmu.

    seperti rt-rw net yang dapat menjangkau tentangga, sdh saatnya content yang berjalan diatasnya dijejali dengan content pendidikan yang dapat diakses dari tetangga sebelah.

    rt-rw-education mungkin belum ada yang berpikir kearah sana. padahal potensinya luar biasa… belajar dari rt-rw-net contentnya bisa rt-rw-education…

    konsep ODL yang open source menjadi dasarnya. start dari sini akan berkembang menjadi knowledge resources yang saling terhubung…

  2. -memang perlu dibangun politeknik di berbagai daerah supaya biaya kuliah jadi lebih rendah karena akan menghemat biaya hidup dan perjalanan dari daerah ike kota-2 pusat pendidikan.
    -lulusan diploma yang punya 70% keterampilan dan 30% teori harus lebih banyak dari sarjana yang kompisisi pengetahuannya lebih banyak konsep.
    -Softskill seperti interpersonal skill, language skill, dan writing skill harus diberikan sejak dini. kemampuan untuk self motivation dan problem solving akan menjadi jalan pembuka bagi generasi yang kreatif dan mandiri.

  3. disaat hasil UNAS (ujian Nasional) siapa yang berdebar menunggu hasil ? jawabannya BUKAN Siswa Yang Bersangkutan !! lho Kok ? yang Paling Berdebar adalah pihak Sekolah (kepala sekolah) dan Kepala Dinas Pendidikan..!

    % kelulusan cerminan kinerja Sekolah dan Dinas Pendidikan. lalu siapa yg ditekan…? ahk… bukan rahasia umum lagi… di sekolah2 sampai ada instruksi tersirat harus mensukseskan UNAS… hasilnya… lihat sendiri …. siswa2 yg kesehariannya biasa saja atau dibawah standar mempunyai Nila UAN sempurna pada matapelajarannya “10” mengalahkan siswa yg berprestasi sehari2nya di sekolah. Aneh bin Ajaib.!! coba kita tanya pada anak2 didik kita… saat ujian berlangsung… para tim sukses bergentayangan…. di kelas..! di nyata… tidak bisa kita pungkiri dan tutup sebelah mata.

    Guru menjadi posisi yg “terjepit’ antara melaksanakan “instruksi’ pimpinan atau melaksanakan idealis pengawasan Ujian.

    Setiap tahun Standar minimal Kelulusan di naikkan… artinya setiap tahun juga Para pejabat pendidikan : Kepala Sekolah dan Kepala Dinas Pendidikan … berdebar2 Pusing …puyeng…. Stress …!! selalu berpikir bagaimana “Mensukseskan” UNAS … 🙂

    Tanpa disadari sebenarnya Kita menciptakan Generasi2 yg lemah dalam berkompetensi, jiwa yg rapuh, mental yg bobrok…., why ..? karena setiap UNAS …”bergentayangan” Tim sukses UNAS …. ini terjadi tidak hanya pada level SMK / SMA…, tapi juga terjadi pada level SMP dan SD …! tidak percaya ?? silahkan tanya anak kita, anak tetangga kita, anak saudara kita, anak teman kita, bagaimana saat pelaksanaan UNAS berlangsung..? apa ada yg memberitahu jawaban ??

    sekali lagi jangan tutup mata melihat realita yg terjadi di Masyarakat kita….!

    UNAS memang baik. kenaikan standar minimal kelulusan tiap tahun dinaikkan Juga memang Baik. Tapi dalam pelaksanaan nya Komponen pendidikan di level terbawah “tidak Pernah Siap” ..!

    jadi… Apakah UNAS masih layak utk mengukur KELULUSAN siswa …? Apakah siswa2 kita bisa menembus Perguruan Tinggi Sekaliber ITB & ITS ?
    UNAS menciptakan BOM waktu ….!

  4. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Sudah sejak 2001 kami dari PIKMI Surabaya memberikan pencerahan mengenai pendidikan pasca SMA sederajat di Jawa Timur.Kami melihat sebenarnya bukan hanya siswanya yang tidak siap tapi guru dan kurikulum yang ada juga belum siap.Contoh saya pernah bertanya di hadapan anak sekretaris dan akuntansi di SMKN 1 Surabaya kelas III apakah mereka siap kerja? ternyata tidak ada satupun yang menjawab.Di lapangan kerja saya melihat anak jur sekretaris bekerja sebagai kasir, jurusan akuntansi bekerja sbg spg.Dan yang lebih mengejutkan dari team penilai sekretaris di kabupaten Jawa timur ada satu kota guru SMK jur sekretaris di tes kemampuan komputernya ternyata dari 100 orang yang lulus dg nilai minim hanya 3 orang.Saya dg teman2 selama ini berjuang dg lembaga kami untuk mempersiapkan anak2 tsb untuk siap kerja dan hasilnya Alhamdulillah mereka bekerja di tempat2 yang baik dengan gaji yang lumayan besar, hanya saja kecenderungan orang tua dan anak2 tsb mau masuk ke PTN/PTS dg alasan status, padahal mereka kesulitan biaya.Sedangkan lembaga pendidikan profesi semacam kami harus bersaing dg ITS,UNESA, UNAIR yang juga punya pendidikan profesi 1 tahun .Maka kita tunggu saja kejatuhan ribuan lembaga kursus/pendidikan profesi di jawa Timur.Semestinya PTN/PTS tetap konsisten di jalur S1/S2/S3 tidak perlu ngurusi pendidikan profesi.
    Mohon ini jadi pertimbangan yang cermat.Lembaga kursus dan pendidikan profesi adalah mitra pemerintah untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai.
    Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr.wb.

  5. Sangat menarik ulasan bapak bagaimana menciptakan kerja bukan mencari kerja bagi kita yang sudah lulus, ini merupakan fenomena yang tidak habis-habisnya dibahas dan setiap tahun tenaga kerja kita terus bertambah sedangkan lowongan tambah sedikit, tentu perlu kompetensi yang lebih untuk bisa memenangkan persaingan baik tingkat nasional maupun internasional (dalam negri ataupun luar negri)
    Semoga dengan ide bapak ini bisa kita aplikasikan di lapangan dan juga bagi pemerintah bisa mengetahui dan bekerja sama .

  6. Sangat menyentuh pak uraian di atas. Kondisi tersebut sudah berlaku selama puluhan tahun, mungkin sekarang ini mulai begitu jelas terasa dampak dari sistem pendidikan kita yang tidak jelas. Menurut saya ada 2 penyelesaian yang mungkin bisa dilakukan :

    1. Dari sistem pendidikan yang mampu merubah budaya yg ada dari :
    – sekolah hanya menghasilkan ijazah dan dibarengi skill yang memadai
    – kurikulum yang bersifat adaptif dan berkompetensi terhadap teknologi terkini
    – Berorientasi pada karrier teknologi / karier kompetensi
    – Berorientasi pada produk dan bukan nilai
    – Dikembangakan metode pengajaran yang berbasis teamwork.

    Tapi itu semua merupakan kerangka teoritis.

    Saya pahami pak Gatot selama ini selalu berusaha mensiasati dengan membypass birokrasi di sistem pendidikan yang begitu lambat dan ga jelas.

    Memang saat ini yang memungkinkan terbukanya kesempatan kerja di luar sangat banyak dengan adanya isu globalisasi. Kebetulan di politeknik beberapa kali kerjasama dengan jepang untuk mempersiapkan kebutuhan tenaga di bidang IT. Tetapi sangat disayangkan peminatnya sangat sedikit. menurut saya dikarenakan dalam hal ke ilmuan lulusan atau mahasiswa belum siap hard skillnya.

    Berarti peluang sudah terbuka. tetapi skill belum terpenuhi. masa sekolah 3 tahun masih belum bisa, tentu ada yang salah. Entah salah dimetodenya? entah salah dikurikulumnya? entah salah dibudaya asal ngajarnya? atau salah di rutinitas pertemuan antara dosen dan siswa? sehingga progress kompetensi siswa tidak jelas terbentuk. Kalau saya amati siswa sendiri sekolah hanya sekedar sekolah. seperti tidak ada keinginan, datang dan pulang setiap hari. Hal ini merupakan masalah utama.

    2. Yang kedua. Langkah praktis. Jika dirasa melalui jalur normal sistem pendidikan sangat sulit. Tentu menggunakan program2 yg merupakan terobosan. Yang mampu secara instan mencetak skill-skill khusus dan fokus terhadap kompetnesi tertentu.

    Kalau menurut sy bisa dibentuk HOME SCHOOLING – Home SCHOOLING yang mempunyai spesifikasi khusus sebagai berikut :
    – Mempunyai metode pengajarang cerdas.
    -Fokus dan padat terhadap skill tertentu.
    -Integrasi beberapa bidang ilmu dalam bentuk pembuatan produk
    -Tentu di home schooling ini orientasi siswa terhadap nilai tidak ada, akan tetapi skill dan mengalami proses dalam pembuatan produk.

    Nah home schooling seperti ini akan memberikan muatan skill sebagai pendamping ijazah yang di dapat di sekolah. Ijazah merupakan pengakuan yg diperoleh dari sekolah formal. dan skill merupakan bukti kemampuan kompetensinya yang diperoleh dari informal.

    Bagi saya masalah utama adalah : Pendidikan Formal tidak siap mencetak lulusannya mempunyai Skill sesuai dengan kebutuhan yang ada. Pengamatan sy kalau ada mahasiswa yang bagus skillnya pada umumnya belajar sendiri atau dapat dari external kampus.

    Kebetulan saat ini saya lagi riset bagaimana mencetak programmer dalam waktu singkat meskipun tidak pernah belajar IT. Latarbelakan dari riset ini adalah:

    dari suatu inovasi terhadap pertanyaan sederhana.
    Mengapa D3 itu 3 tahun? Kenapa bukan 3 bulan?
    Kenapa bikin software begitu lama? Tidak kah bikin software bisa ditunggu seperti bikin kue?
    sehigga riset kami saat ini adalah Bagaimana membuat metode pengajran software langsung berbasis proyek untuk mencetak programmer yang mempu membuat software seperti membuat kue? bisa ditunggu? ga pake lama. Ini menjadi visi home schooling kita.

    Riset pertama adalah : Menerjemahkan skenario bisnis menjadi software secara langsung. Jadi proses algoritma, DFD, PDM/CDM hilang. dan ini sudah kita terapkan di beberapa proyek software kami hasilnya sangat significant. Proyek yg biasa dikerjakan dlm waktu 6 bulan menjadi 1 bulan. Dan tidak rumit.

    Demikian pak saran sy mudah2 bisa jadi masukan.

    Saya berharap cita2 mulia Bapak segera terwujud. Amin.

    • Dear Pak Nurudin Santoso, dalam dunia Pendidikan saya sependapat dgn Bapak, bahwa kita sbg Pendidik harus melakukan banyak inovasi dan melakukan transfer knowladge & skil.

      Tapi akan kontras perbedaannya dikala kita sdg menggarap project, project yg sebentar identik dgn “murah” sedangkan project yg digarap lama identik “Mahal” padahal pengerjaan nya tidak selama dugaan konsumen. ini dunia project Pak.

      Sekali lagi saya berikan apresiasi thd riset yg Bapak lakukan. pendidikan Formal (SMK dst…) jangan sampe kalah bersaing dgn pendidikan luar sekolah (kursus)… jadi pola2 kursus harus bisa diadopsi oleh pendidikan jalur formal… 🙂

      • Jika kita perhatikan vendor-vendor sukses saat ini seperti, google, oracle, ibm, adobe, sun, facebook, twitter. microsoft dsb. Mereka tidak akan terlena dalam siklus operasi karena sudah mapan. Justru mereka selalu kwatir terhadap pesaing, sehingga mereka tidak henti-hentinya melakukan Riset untuk berinovasi terhadap produk-produk berkualitas.

        Kondisi saat ini dan akan datang akan bergeser, Industri IT membutuhkan SDM yang mampuu menjawab tantangan dan kebutuhan mereka tanpa peduli lulus dari mana entah lulus dari ITB, ITS, UNibraw, Politeknik, SMK, ataupun lembaga kursus. Dan project sekalilpun juga mengalami pergeseran, tidak lagi yg cepat dikerjakan akan murah dan yang lama dikerjakan akan mahal. Ukuran produk dan project terletak pada fungsi dan kualitasnya.

        Bukan kah suatu produk tidak akan ditanyakan dibuat oleh siapa dan berapa lama? Entah dibuat oleh universitas ternama ataupun lembaga kursus, berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan entah 1 minggu atau 1 tahun. Harga produk atau proyek terletak pada kualitasnya.

        Satu pertimbangan pak. Lembaga kursus ataupun pendidikan swasta ata lembaga informal tidak akann bisa bertahan lama kalau tidak mempunyai kualitas yang bagus. Sedang kan Universitas dan sekolah negeri tertolong oleh budaya masyarakan Indonesia yang ingin sekolah.

        Jika lembaga kursus bisa menghadirkan materi studi kasus proyek2 nyata. maka itu yang tidak didapatkan pada sekolah2 formal yang sangat kaku terhadap kurikulum. Matakuliah diajarkan secara parsial pada sekolah2 formal. Itu salah satu kelebihan dari pendidikan informal. Lembaga kursus mempunya fleksibilitas yang tinggi untuk berkembang dan menyajikan materi-materi nyata berkompetensi. Inovasi yang tak terbatas ini dimiliki oleh lembaga informal. Sedangkan aturan2 sekolah formal sangat membatasi inovasi.

        Lembaga informal yang tidak mau berinovasi akan mati lebih cepat dari pada lembaga formal. Ini perlu dipikirkan. Tidak perduli dari mana siswa mempunyai skill entah dari formal ataupun informal. Semestinya kehadiran lembaga informal akan menunjang skill sekolah2 formal jika tidak terpenuhi.

        Satu permsalahan lagi pak yang mesti dipikirkan, Jika guru ataupun dosen tidak pernah proyek, bagaimana akan mengajarkan siswanya untuk membuat produk? Apa hanya sekedar cerita tentang proyek sj yang bisa diberikan dan memberikan komentar terhadap pekerjaan siswa.

        Kenapa sekolah atau kampus tidak bisa menjadi sekaligus industri? Bisa terbayang kualitas siswa yang belajar semisal di fakultas kedokteran dan kampusnya mempunyai rumah sakit sendiri. Berapa byk sekolah atau kampus di Indonesia yang sekaligus menghasilkan produk atau mengerjakan proyek. Ini adalah lapangan pekerjaan tentunya. Hal yang perlu dipikirkan? Mungkin sudha terpikir tetapi menemukan kendala2 significant?

        Bnyknya pengangguran menjadi isu saat ini, alternatif penyelesaian yg dilakukan adalah memperbanyak materi2 kewirausahaan dan QMS dengan harapan mahasiswa setelah lulus bisa berwirausaha. Menurut saya ini hanya pelarian sja karena belum bisa mencetak lulusan yang siap kerja dan sulit mendapat pekerjaan kemudian diarahkan ke wirausaha. Saya tau wirausaha sangat bagus. Tapi apa arti sekolah atau kuliah nantinya jika lulusan IT di salah satu perguruan tinggi misalnya kemudian berwirausaha sebagai penjual bakso. Gak salah memang.

        Masalah utama tetap terletak pada skill yang harus dicetak pada lulusan kita. Skill bagus dengan jiwa wirausaha akan memberikan peluang kerja yang luas. TETAP YG UTAMA SKILL. apakah sudah terpenuhi?

        mohon maaf bapak2 sy terlalu byk omong. Terima kasih.

  7. Mungkin seharusnya pemerintah punya data tenaga kerja kita yang punya skill, setengah skill dn tidak punya skill. Kalau memang di dalam negeri saat ini kurang lahan kerja, mungkin keluar negeri lah. Saat ini lebih banyak TKI, padahal tenaga kerja kontrak kita cukup melimpah…. khususnya dalam bidang konstruksi. Pernah mandor dan tukang Jawa Barat bekerja di Batam, jadi nampak oleh pengusaha manca negara… Tampaknya pengusaha banyak yang tertarik pada skill bangsa semacam itu… Saat mereka diminta kerja-kontrak di Timur Tengah, Hongkong dan Brunei, persyaratannya adalah sertifikasi dari ILO UN, yaitu MOSS. Harusnya Depnaker tanggap untuk mejadi agen MOSS untuk ILO di Indonesia, memberi pelatihan dan melaksanakan sertifikasi agar tenaga kerja kita dibayar sama dengan tenaga kerja dari negara lainnya, baik dari negara berkembang maupun negara maju…
    Sila dilanjut…

  8. Tambahan….
    Menjadi pelaksana semacam ini terutama untuk level mandor akan sama dengan sebagai sub-kontraktor, artinya menjadi wira-usaha juga…. karena tidak seperti selam ini, TKI “dijual” oleh boss agen penyalur tenaga kerja… Sedang pemegang sertifikasi otomatis tercatat segala-sesuatunya dalam daftar ILO sehingga pengguna jasa hanya cukup membuka data-base dan menghubungi langsung ybs….

  9. Artikel yang menggugah perasaan, yuk kita berbuat sesuatu yang lebih baik melalui tetangga kita terlebih dahulu. Keep Spirit pak…….

  10. “Menolong tetangga atau lingkungan untuk kuliah Berbasis Produksi..”

    hmmm…..should be finding out what are the potential things they have in their environment…and continue with building the programs and courses..but the most important thing is who will do the market for the products….that’s all I knew…

    Warm regards,
    Bijono

  11. Pak… sangat-sangat mengguggah,.. saya sendiri sering punya keinginan seperti itu.. tapi apa daya saya harus berjuang untuk “menghidupi diri dan keluarga”.

    Saya hanya seorang guru honorer murni.. di salah satu smk kab. cirebon pak.., tapi meskipun begitu saya sudah berusaha ke arah sana dengan hanya mengajar di 1 sekolah saja. Dan kebetulan saya diserahi tugas mengelola jurusan multimedia.., yang selama ini dilakukan adalah memberi kesempatan seluasnya kepada siswa untuk menggunakan lab yang ada setelah pulang sekolah.. mereka bebas berkreasi.. berlatih dan saya memberi waktu sampai jam 4 sore tanpa ada uang lemburan.

    Jika tidak ada acara saya setia mendampingi mereka,, meski jam pulang sekolah 13.30., tapi baru pulang jam 4 sore.., bahkan hari minggu bahkan sampai nginep..

    Alhamdulillah dari 2 angkatan alumnus.., hampir semuanya sudah terserap ke bursa pekrejaan. itu dari sms yang mereka kirimkan. bahkan ada 1 orang alumni yang menarik 3 adik kelasnya untuk bekerja .

    ide Bapak tersebut kayanya pas untuk guru PNS yang sekarang sudah meningkat kemakmurannya.. tapi belum diikuti leh jiwa pengabdiannya..,

    Jika semua guru PNS dengan banyak waktu luang dan tergerak .., pasti akan banyak siswa-siswa (SMK) kita yang akan lebih terasah keterampilannya.., sehingga akan memudahkan lulusan terserap ke bursa kerja…

    Sekarang kan masih banyak PNS yang “medua” bahkan men”tiga” hati. Sudah PNS tapi masih ngajar di mana-mana giru. Jadi bagaimana bisa mecurahkan segenap kemampuan dan waktu untuk anak didiknya..

  12. Kalau kita meneliti apa yang terjadi UNAS memang memprihatinkan… disatu sisi siswa dituntut untuk mengasah kemampuan atau skill kompetensi (di SMK kompetensi kejuruan) sementara mereka harus memikirkan kompetensi Normatif dan Adaptif yang seharusnya hanya sebagai pendukung saja … semisal… pelajaran matematika.. dipelajaran matematika antara jurusan sipil dengan mesin tentunya beda.. namun pada kenyataannya matematika bukan lagi sebagai pelajaran Adaptif tapi sebagai salah satu mata pelajaran utama yang akan menentukan dia lulus atau tidak….

    Kemudian kaitannya dengan kesempatan kepada tetangga kita untuk dapat sekolah mungkin solusi yang paling baik adalah ajak para remaja itu untuk membentuk suatu kelompok belajar kemudian di kampung kita sediakan koneksi internet tingkat RT atau RW dengan subsidi dari masyarakat atau juga mencari sponsor yang untuk mendapatkan koneksi internet gratis…

    sedangkan perkuliahan dapat dilakukan dengan sistem SEA-EDU net…. dengan bantuan antena parabola yang dapat di share ke dalam satu kampung tersebut..

    kemudian masalah legalitas dan ijazah dapat diberikan melalui pendidikan nonformal seperti Kejar Paket C atau yang lebih tinggi…

    Insya Allah jika kita mau membantu dengan tulus maka ada jalan untuk mewujudkannya..

    terima kasih
    salam hangat dari Gresik
    wasis

  13. ide dan info yang bagus….trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: