diskusi ttg kemajuan pt di asean

untuk meningkatkan , mungkin salah satu cara di buat kompetisi tahuanan ,dengan indeks yg terukur brp kerma dgn pt ln, dual degree,% jumlah mahasiswa asing, jumlah mhs nya yg migrasi ke pt ln dll..
ini  di umumkan ke publik setiap 6 bulan atau 12 bulan..dan di beri reward..

pasti rame dan semangat para rektor, dekan dan direktur pt..

saat ini kira2 ada 8000 an mhs asing di indonesai, dan dominan di fak kedokteran, farmasi.. kebanyakan dari malaysia..

mhs asing di malaysia saat ini sdh di atas 50.000 an dan mereka ingin mencapai 100.000 mhs asing dalmm 2 – 3 thn yad….utk hal ini mereka  dibantu banyak atdikbud dalam promosi pt nya…

gmn kita..:) tergantung visi dari komandan setiap pt dan kemampuan negosiasi  para rektor dan jajarannya..klo rektornya , direktur, ketua pt susah berkomunikasi dgn orang asing  bgmn mau maju..:)..ya harus membuat tim yg pro aktif  yg menangani hal ini…sbg salah satu solusinya..pasti ada jalan klo mau dan niat…..:)

klo pt indoneisa dalam 5 thn yad bisa bersinergi dgn yg di asean minimal 500 pt..dan ada 1 juta mhs asean..yg  mengikuti dula degree antar uni asean..kan bagus utk peningkatan ….

Iklan

6 Tanggapan

  1. Senin, 16 November 2009 | 12:13 WIB
    > JAKARTA, KOMPAS.com – Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia perlu melakukan kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri Selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas, hal itu juga demi daya saing.
    > Sampai saat ini, belum ada lembaga pendidikan di Indonesia yang masuk dalam kategori 200 universitas terbaik dunia versi lembaga pemeringkat ternama The Times Higher Education-QS World University (The-QS World University).
    >
    > Sementara itu, Global Competitiveness Report 2009/2010, yang antara lain menilai tingkat persaingan global suatu negara dari kualitas pendidikan tingginya, pun cuma menempatkan Indonesia di peringkat ke-54 dari 133 negara, yaitu di bawah Singapura (3), Malaysia (24), Cina (29),Thailand (36), serta India (49). Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah sarjana yang belum bekerja per Februari 2009 hampir mencapai 13% dari total jumlah penganggur, atau sekitar 1,2 juta orang.
    >
    > Menurut Country Director British Council Indonesia Keith Davies dalam seminar membahas peluang dan tantangan kerjasama internasional di Jakarta, Sabtu lalu (14/11), kerjasama antara universitas di Indonesia dengan perguruan tinggi luar negeri yang lebih berpengalaman bisa dilakukan melalui Double Degree, Franchise atau Staff Exchange.
    > Sayangnya, di kata dia, bidang ini pun Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangganya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, saat ini terdapat 270,000 mahasiswa asing yang mengambil double degree di sana. Dari jumlah itu, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan India menyumbang hampir setengahnya.
    >
    > Kesiapan universitas
    >
    > Mahasiswa asing yang universitasnya menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi Inggris bisa meraih diploma ganda sekaligus mendapatkan salah satu pendidikan terbaik di dunia. Menurut The-QS World University, peringkat 5 besar universitas terbaik dunia saat ini didominasi oleh 4 perguruan tinggi Inggris yaitu University of Cambridge, University College London, Imperial College London, dan University of Oxford.
    > Untuk itulah, lanjut Davies, mulai tahun depan pemerintah Inggris melalui British Council menyediakan bantuan “Prime Minister Initiative 2: Collaborative Programme Delivery” hingga sebesar 1,2 juta poundsterling bagi perguruan tinggi di Indonesia. Dana itu, kata dia, dipergunakan untuk membangun kerjasama internasional hingga dua tahun berikutnya.
    >
    > Sejak dicanangkan pada 2006 lalu, program Prime Minister Initiative ini berhasil membiayai 235 kerjasama penelitian, pelatihan dosen, pertukaran mahasiswa, dan beasiswa antar universitas di seluruh dunia.
    > “Melalui kemitraan ini kami berharap dapat mewujudkan internasionalisasi dunia pendidikan yang lebih luas lagi. Program ini sebagai pembuka jalan untuk kemitraan antar lembaga pendidikan kedua negara,” ujar Davies.
    >
    > Dia menambahkan, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sukses membangun kerjasama dengan Inggris. Sebutlah misalnya, kata dia, Universitas Bina Nusantara yang bekerjasama dengan Northumbria University untuk Design Studies dan dengan Bournemouth University untuk Tourism & Hospitality. Contoh lainnya adalah Universitas Indonusa Esa Unggul, yang bermitra dengan Heriot Watt untuk Management Programme.
    > Mahasiswa jurusan desain Bina Nusantara, ujar Keith, bisa belajar dan mendapatkan gelar dari Northumbria, –kampus yang menelorkan Jonathan Ives, si perancang iPod dan iPhone yang tersohor itu. Sementara itu, mahasiswa di bidang pariwisata pun bisa mendapatkan gelar dari Bournemouth yang belum lama ini menginvestasikan 1.5 juta poundsterling untuk fasilitas teknologi komunikasi dan informasinya.
    >
    > Menanggapi hal itu, Dekan Program Binus Internasional Minaldi Loeis mengatakan, bahwa segalanya kembali pada pengelola lembaga pendidikan itu sendiri.
    > “Tantangannya justru ada pada kesiapan universitas dalam menjalankan visi, komitmen, pemasaran, serta manajemen programmya,” tutur Loeis.
    > Dia menambahkan, biaya sebetulnya bukan menjadi kendala. Walaupun Binus menaikkan biaya pendidikan internasionalnya hingga 10 persen demi menjaga kualitas, lanjut Loeis, jumlah mahasiswa yang mendaftar setiap tahunnya mengalami kenaikan antara 10 sampai 20 persen.
    >

  2. Yth GHP
    Menyedihkan ya pak karena jabatan rektor dan dekan kelihatannya sudah mulai ditentukan oleh penguasa daerah/Gubernur/Bupati/walikota
    Salam dari pedalaman sulawesi utara
    Torang samua basudara
    Smk cokro

    A s malah kota mobagu

  3. saya di USA bulan kemarin meeting dg beberapa architect dan juga implementator system smart grid yang lagi popular

    lulusan stanford dan berkeley sekarang juga pada gak bisa gawe itu biasa, katanya no. 1 di california

    kalau yang pinter ludes diambil google atau facebook, tapi sisanya itu “mendingan orang indo”

    F

  4. padahal dosen2 pt kita banyak yg lulusan luar negeri lhoo, tapi komunikasi pakai email kok yaa lama. heemm..apa karena selama kuliah di luar negeri mereka selalu bawa keluarga sehingga tidak biasa pakai email ..?
    djoko suwito

  5. padahal dosen2 pt kita banyak yg lulusan luar negeri lhoo, tapi komunikasi pakai email kok yaa lama. heemm..apa karena selama kuliah di luar negeri mereka selalu bawa keluarga sehingga tidak biasa pakai email ..?

    djoko suwito

  6. Pertama, setelah mereka kuliah dengan beasiswa RI, sesampai di kampus mereka dianggap kompetitor berat bagi rekan sekerjanya untuk menduduki jabatan tertentu…sehingga ybs ga diperhatikan (ga diberikan job yg sesuai), karena ga kerasan dengan iklim kerja yg seperti ini mereka pilih hengkang ke LN.

    wah curhat yang sama terjadi tuh sama satu dosen dari luar S3 ke saya, dan katana ada penguasa senior yang so tahu dan ngatur dan merasa ini daerah kekuasaan, dan gilanya ada yang lagi yang lebih berkuasa setelahnya

    Kedua, pihak yang memberikan beasiswa (diknas) kayaknya kurang serius memantau rekan2 penerima beasiswa…mestinya di trace..dan dikasih kerjaan sesuai keahliannya.

    yah itu dari dulu pemerintah kacau sudah umum, dari jaman papa saya, sampai saya ditegur keras berurusan dg pendidikan, lo ngapain abisin waktu aja, gitu katanya.

    Ketiga, ternyata banyak pt di LN yg menawarkan beasiswa sampai s3, setelah lulus dengan predikat sangat memuaskan….mereka langsung “diikat” dengan tawaran yg menggiurkan…

    bukan itu saja, dikampus saya ada yang nawarin ke belanda full S3 dan citizenship, dan serunya 8 dari top 10 teman kuliah saya sudah dibelanda semua

    mantap

    yach…akhirnya kaburlah org2 pintar kita yg rasa kebangsaannya kurang…

    Salam,
    kb

    — On Mon, 11/16/09, Frans Thamura wrote:

    From: Frans Thamura
    Subject: Re: [Dirgahayu Milis Dikmenjur] Minat belajar ke luar negeri mewabah
    To: dikmenjur@yahoogroups.com
    Date: Monday, November 16, 2009, 7:11 PM

    konon, CMIIW

    saya lihat pendidkan sampai SMA di indo lumayan, cuman yang buruk kuliahnya saja

    ada comment?

    jadi kuliah sebaiknya keluar saja 😉

    tragis juga yah

    F

    2009/11/17

    Dear all putra-putri bangsa?
    Bljr keluar negeri, tdk sedikit anak bangsa ini sdh lulus s3 bahkan professor, tapi hasilnya tdk terimplentasi alias tdk dipakai, banyak contoh putra terbaik tp tdk dimaanfaatkan oleh peminpin bgs ini, alias kabur lagi ke ln, sementara brp bsar uang negara dihabiskan, makanya teman2 tanya dulu hati nurani sebelum trlanjur, kasihan donk yg belum mengerti tujuan hidup utk bgs, para professor kita hanya konsep doang alias tdk berkontribusi untuk rakyat banyak, sementara uang rakyat habis buat kuliah ke luar negeri, buat dulu komitmennya yang merakyat, tq makmur
    Terkirim dari telepon Nokia saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: