lele versus unagi

kita sedang menyiapkan materi pembnelajaran ikan lele, dgn imam staf seamolec, karena kita mikir, bahwa protein tinggi bisa di kembangkan oleh masyarakat dimanapun juga dgn menyiapkan proteinnya sendiri….
memang berbeda dgn mencari pekerjaan..dan dapat penghsilan dari bekerja..bisa di belikan apa saja…tapi klo seseorang atau keluarga penghasilannya tertentu..bisa melewati kebutuhan setiap bulannya dgn penghasilan tersebbut…tetapi bila..keluarga atau kelompok tersebbut mau berusaha dan berfikir sebentar..utk mengisi waktu kosong serta tenaga yg bisa di sinergikan memproduksi sesuatu…misalnya ikan lele…kan secara tidak sadar…kebutuhan akan protein utk keluarga sdh bisa di penuhi secara mandiri…
bayangkaan kalo klompok tani atau siapaun bila ikut mengembangkan /membesarkan dari bibt lele menjadi lele siap saji di keluarganya…ada 2 hal yg bisa di hitung….secara tidak langsung dapat penghasilan tambahan dari produksi lele tersebbut, dan selain itu protein keluarga juga makin baik…
salah satu kelebihan negara maju dan berkembang adalah dari gnp nya, dimana yg gnp tinggi dapat beli apa saja utk memenuhi taraf hidup mereka sesuai dengan kebutuhan gisi utk memelihara kesehatan mereka…, sehingga mereka bisa tahan kerja lama, berfikir fokus dan kemajuan lingkungannya terlihat signifikan..sehingga bisa di manfaatkan oleh orang banyak…

andaikan kita dari segi protein dapat juga menyiapkan utk masyarakat kita dgn harga terjangkau atau bisa di bagikan bibitnya utk suatu saat di konsumsi sendiri dan lelel ini sama kaya kelinci bisa di biakkan dengan mudah…dan menjadi sumber protein masyarakat yg murah…dan terjangkau..

klo pendidikan kita salah satu matadiklat atau ajarnuya..kita sinergikan dgn produksi kan bagus..? belajar dapat ilmu dan hasilnya bisa di manfaatkan oleh keluarganya…bukan smk perikanan saja atau peternekan lho…

klodi bantul, sdh jalan, setiap anak sd di beri 1 ekor doc, utk di pelihara dan nantinay di makan oleh keluarganya…klo satu keluarga ini bisa motong ayam 1 ekor setiap minggu…kan lumayan..di tambah lele..atau apapun yg punya nilai gisi tinggi..?

klo komoditas lele, yg paling banyak di jatim dan sebagian jabar…., sdh ada kelompok2 nya yg mengembangkan lele tersebbut dan harganya antara 12 rb sd 15 rb/kg di pasar…dlm konsisi mentah.., isinya 8 – 10 ekor /kg…dan di besarkan dalam 4 – 6 bulan?…detailnya sedang kita siapakan moodle nya agar bisa di baca oleh siapapun..nantinya…

hal yg menarik, analog dgn lele..cuman bibitnya dari laut, yaitu sidat atau unagi…makanan yg di gemarin oleh orang taiwan, jepang, china…keperluann ekspornya tinggi, dan harganya juga tinggi antara 120 – 180 rb/kg….
cobaanda bayangkan kalau suatu kawasan atau kabupaten 100.000 penduduknya…berkarya memproduksi ikan lele atau unagi..kan dahsyat…
berapa uang yg akan beredar di masyarakat akibat produksi tersebut..bila ada 100.000 kg atau 100 ton dir kawasan tersebut…/6 bulan…
klo lele harganya 10.000/kg > 100 ton kan ada 1 milliar dana beredar di masyarakat..bila produktifitasnya 1 kg/keluarga…klo 25 kg/kel kan 25 m…klo 100 kg./kel = 100 m…bila itu di ganti unagi…yg harganya 100.000/kg kan 10 x lipat peredaran uang di kabupaten tersebbut…dan ini bisa di pakai sebagai peningkatan pendapatan masyarakat serta peningkatan daya beli dan pajak daerah …kan bagus…gimana dgn daerah anda anda..mau ndak mengembangkan komoditas yg diperlukan oleh minimal kita sendiri agar menjadi masyarakat mandiri dan madani…baca uga kompas tgl 15 mei 2010 ttg ikan sidat/unagi…potensi unagi masih besar…di indonesia ini…kita sedang memikirkan seamless education khusus berbasis produksi dari jejang slta-sma/smk ke jenjang berikutnya sd d1/d3/d4 sehingga menghasilkan produsesn2 ungai dan peneliti unagi dalam meningkatkan efisiensi produksi unagi dalam mendorong kemakmuran suatu kawasan dan bangsa….

saran….

Iklan

4 Tanggapan

  1. Yth Bapak,

    Untuk kalangan berumur, pasokan protein yg terlalu tinggi malah menambah penyakit. Kata ajaran orang2 suci, sebaiknya perut kita jangan dijadikan “kuburan”…

    Kiranya negeri kita dikaruniai alam yg luar biasa indah dan berlimpah gemah ripah loh jinawi dapat mengelola alam tersebut saja sudah wasyukurillah. Janganlah hutan belantara ini habis untuk explorasi kapitalis seperti diulas oleh Yann Arthus Bertrand (http://www.yannarthusbertrand2.org) di metrotv tiap sabtu…
    Ikan lele memang serba mudah, dimasukkan ke septic tank saja hidup kok, besar-besar n gemuk-gemuk…

    Sementara ini kita sedang coba mulai kelola lingkungan sekitar dg kebun organik, mengingat lingkungan sudah tercemar limbah, baik industri maupun rumahtangga. Hal mana di Germany sudah menjadi kebiasaan hidup, dimana makan yg bener ya ada salad nya, sedapat mungkin Bio-Produkte.
    Konon menurut Prof. Hiromi Shinya, kebutuhan asupan hewani manusia hanya 15% saja….

    Terimakasih

  2. Pak Gatot sepertinya sulit melepaskan kegemaran ikan yg satu ini Ikan Lele….justru kalo yg saya dengar dikampung2x pembudidayaan Lele itu makanannya apa saja, krn lele termasuk jenis ikan yg nedonerimo, shg yg namanya lele tdk pernah protes walaupun dikasih makanan yg agak kotor-sgt kotor tetap semangat melahapnya, terbukti ikan lele selalu punya daging yg banyak dan duri yg sedikit, yg hebat lagi lele mampu hidup di banyak medan, medan lumpur OK, medan basa OK dst, pokoknya ikan lele termasuk jenis ikan super….hanya kl lihat asal usul peternak skrng yg ingin profit terus, akhirnya apapun makanannya yg penting lelenya tetap gemuk, mangkannya tdk sedikit org yg terkadang justru alergi habis makan ikan Lele, mungkin lele tsb diberi makan makanan yg termasuk jenis makanan yg membahayakan bagi tubuh….tp kembali ke pribadi masing2x, asal merasa lezat, ya enjoy aja pak..:-)

  3. Yth. Bapak Motivator, Inovator yang tercinta

    Program dengan pola unagi ini memang sangat baik untuk mengakselerasi peningkatan SDM disemua tingkatan, karena akan menhangkau sampai daerah daerah khusus yang diperlukan tambahan pengembangan SDM nya. Bapak telah memulai melecutkan ide, dan ide ini akan menjadi contoh untuk program / sasaran lain. Untuk itu Jalan terus teman- teman yang berkarya dibidang ini, kegagalan, hambatan, atau benturan benturan dengan hal hal yang menghalangi merupakan titik awal kesempurnaan jalannya program.
    Kami siap share. urun rembug, atau juga terlibat langsung
    Salam
    Gaguk

  4. unagi menjadi sngt potensial, maju terus pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: