sekolah 2.0 atau sekolah digital..?

setelah mendengarkan presentasi prof man go park dari korea dan diskusi dgn tim jarc, terfikir mungkinkan sekolah 2.0 bisa kita kembangkan di indonesia..? tantangannya memang cukup menarik…
dengan di temukan program seams-sms nya seamolec, pembelajaran akan menjadi lebih mudah, dari satu kota ke kota lainnya…guru yg terbaik bisa mengajarkan dgn tenang, dan di dengarkan oleh siswa sekolah lain atau kota lain sebagai referensi.

kita sedang memikirkan dan merancang dimana rizal dan haritz di semolec utk merancang suatu sistem yg mmenghubungkan bbrp sekolah..yg mempunyai bandwith besar…

anda bayangkan bila 5 sekolah terhubung dgn sistem ini, dan masing2 mempunyai server yg sepadan, dan guru2 terbaik nya mmengajarkan seperti biasanya, hanya di rekam dan langsung di streaming atau di simmpan di server file tsb.
bagi siswa file sharing tersebut bisa di simpan dimasing2 server dan bisa di unduh di alat bacanya…

kalau siswanya memakai alat baca yg lebih baik , yg tipis dan berbasis android , semua file pembelajaran akan tersimpan di kartu penyimpannya…dan seseoran siswa/mahasiswa bisa belajar apa saja dimana saja…..
artinya fungsi ruangan yg tersekat sdh tidak ada lagi…yg penting adalah hotspot dgn kecepatan tinggi utk mengunduh semua file pembelajaran…
fungsi kelas akan mulai berkurang, atau 1 sekolah dgn kapasitas 1000 siswa , bisa ditingkatkan maksimal menjadi 6000 siswa tanpa harus membangun ruang baru, bila di kota tersebut sudah tersambbung wireless maupun hot spot atau internet…
anak2 itu datang kesekolah hanya utk bertanya yg mmereka tidak mengerti…ulangan bersama bisa dilakukan terus menerrus…
standarisasi pembelajaran terjadi secara kontinu…sehingga ilmu apapun bisa di kembangan secara masal..utk mereka yg memerlukan…

kita akn coba 5 lokasi baik itu sekolah atau universitas yg mempunya bw clear channel cukup besar…

dgn papan pintar serta sms, pembelajaran akan mudah dicerna dan di ikuti oleh jumlah murid yg besar…baik disekolah induk, sekolah cabang, mmaupun dari rumah…dan setelah 14 x mendengarkan kuliah..tinggal datang ketempat ujian utk di test kemampuan knowledge nya…

masih perlukan kita membangun gedung lagi…bila satu kota sdh tersambung dgn inernet atau wireless/intranet..?, karena setiap orang bisa belajar dari rumah..?
sosial skill tetep harus di kembangkan agar mereka bisa dan makin pandai dalam memanfaatkan sosial skill…

bagi siswa dgn alat laptop atau ipad yg di china harganya hanya 500.000, akan merupakan siswa/mahasiswa dgn komputer berjalan…dan bisa menerima streaming matakuliah dimanapun berada…utk knowledge …ini cukup baik..tapi utk pendidikan karakter harus di antisipasi..
hal lain yg positip..kita bisa melatih anak2 kita dgn bbrp bahasa asing di rumah atau dimanapun saja dgn mudah dan murah..tinggal di test pada tempat tertentu…

semoga percobaan ini bisa terjadi di indonesia dan asia tenggara…

siapa yg berminat..silahkan kontak abdulrizal@semaolec.org dan haritz@seamolec.org…juni/juli kita akan siapkan hal ini dgn 5 – 7 sekolah yg berminat dan terseleksi sesuai dgn kriteria teknis kita…

selamat bergabung…

Iklan

4 Tanggapan

  1. SUPER !!!

    Gedung sekolah g perlu banyak2, mestinya gedung ibadah pun demikian….
    Cukup gedung yg ada diberdayakan, pakai 24 jam kalo bisa.
    Tentu saja harus ada budaya industri ala kerja shift…

  2. Sinergikan dengan jardiknasnya pustekkom yg punya infrastruktur di daerah2 pak…
    eman kalo jardiknas cuman begitu2 aja…

  3. wow, luar biasa….. moga bisa terwujud….

  4. Memotong waktu dan tempat.

    Saya senang sekali membaca upaya-upaya pembelajaran tersebut.

    Cerita pengalaman saya:
    Waktu kuliah di UGM dulu, ada satu mata kuliah (bebannya 3 sks) yang saya dan teman-teman (ber enam belas mahasiswa) ambil. Dosen-nya seorang profesor. Pas hari pertama kuliah, pak dosen menghitung jumlah mahasiswa yang ikut kuliah mengambil mata kuliahnya. Ternyata jumlahnya ada 18 mahasiswa. Alhasil, pak dosen yang profesor ini risau. Katanya: “harusnya, saya memberi kuliah yang 3 sks ini hanya untuk 16 mahasiswa saja, kenapa jadi 18 mahasiswa?; kalo ada tambahan 2 mahasiswa lagi, tentu saya harus minta tambahan pertemuan sebanyak 2 pertemuan lagi selama semester ini. Saya tidak bisa men-transfer apa-apa yang ada dalam mata kuliah ini bagi mahasiswa yang seharusnya untuk 16 orang namun menjadi 18 mahasiswa dengan waktu hanya diperuntukkan 16 mahasiswa. Kalau begini, nanti diakhir kuliah pasti ada 2 mahasiswa yang nilainya jelek.

    Oke, saya setuju dengan pak peofesor ini.
    Semangatnya mentrasfer pelajaran yang disampaikan ke mahasiswanya dibatasi oleh ruang dan waktu. Betul saja beliau meminta tambahan waktu sehingga matakuliah yang disampaikannya dapat diserap murid-muridnya.

    Saya setuju dengan upaya-upaya yang digagas Pak Gatot dan teman-teman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: