ipa versus ips dan yad tidak ada jurusan di sma?

klo anda lihat 100 sifat orang indonesia yg di terbitkanoleh detik.com, ada yg mengelitik kami yaitu :(kami ambil no 92 dari 100 sifat orang indonesia lihat http://forum.detik.com/100-fakta-dan-ciri-ciri-orang-indonesia-yg-sama-sama-t214633.html)

92. rata-rata orang Indonesia selalu meninggikan anak-anak IPA dan menganggap remeh anak-anak IPS (padahal mayoritas anak IPA ketika kuliah nantinya memilih IPS)

kayak ada perbedaan dalam pendidikan ….pada zaman sekarang ini….

kalau saya bandingkan dengan eropah, di jerman, yg ada adalah gymnasium itu ya semua pembelajarannya sama, tidak ada perbedaan dalam sekolah tersebut, sd hanya sd 4 tahun, kemudian siswa di sarankan dari kecepatan belajar nya , masuk ke berufschule atau hauptschule, kira2 yg terkait dengan kompetensi, atau gymnasium=sma .
dimana anak2 yg mengarah ke ketrampilan karena lemah di science nya, di arahkan ke sekolah yg banyak ketrampilannya, agar bisa survive dalam perjalanan hidup nya.
bagi mereka yg di anggap mempunyai kecepatan berfikir yg di atas rata2 di dorong ke gymnasium atau dgn terminologi kita sma…klo smk memang utk mereka yg ingin bekerja…dan dididik menjadi jago nya di bidang tersebut…tetapi sekaran smk juga memperkuat science nya.

kita lihat australia, mereka mengenail highschool, tidak mengenal adanya smk/vocational school pada level tersebut.

kita lihat di finlandia, negara yg terbaik tingkat pendidikan nya di eropah, jerman pun belajar ke finlandia, mereka mendorong sekolah2 mempunyai ekskul yg menyenangkan, dlp sma dgn ekskul nya bola atau musik atau kesenian, it, mesin, senirupa ataupun lainnya, tetapi mata pelajaran lainnya  sama..sehingga mereka bisa memilih sekolah dimana ada pelajaran tambahan yg mereka senangi..dan bisa seharian disekolah karena fasilitas maupun ekskul nya sesuai. jadi tidak pukul rata sama a sd z nya…

hal ini di lakukan karena setiap anak mempunyai kesenangan2 yg berbeda…dgn menekuni kesenangan mereka..anak akan belajar dgn bergairah, karena hobi nya tersalurkan, sehingga mereka gembira menjalankan pelajaran di sekolah.

bgt juga di negara commonwealth, kita melihat A level, O level dan pra university….sudah ada penyaluran dari tingkat kecerdasan anak.
balik ke sistem pendidikan secara menyeluruh, wajar 12 tahun dgn kwaliutas yg baik adalah tujuan semua negara, agar masyarakatnya siap bersaing menghadapi persaingan dunia dan diterima dimanapun juga…; pada level ini perpindahan siswa antar negara mudah sekali masuk pada jejang terkait, baik dari indonesia ke jerman atau jerman ke indonesia, tida ada perbedaan..siswa langsung masuk ke kelas setelah di tanya kesetaraannya dan di legalisir oleh yg berwenang…tetapi tidak di jenjang universitas, masih ada saling tidak mengakui , krena topik nya mungkin dll.

intel dalam bbrp tahun terakhir menyeponsori olimpiade/festival science utk siswa2 slta maupun universitas, dalam pertemuan di korea, salah satu industriawan bercerita, inovasi yad di tentukan oleh kepandaian dan kekuatan basicscience/science anak2 kita.;
dengan mereka mengerti dasar science, mereka akan siap melakukan inovasi2 baru utk negaranya/perusahaannya maupun siapapun yg memperkerjakan mereka. dimasa mendatang…karena ilmu berkembang cepat sekali dan tidak bisa di arahkan dari sma, yg jelas kita harus memperkuat fondasi anak2 kita dgn baik di science nya..-( silahkan nonton 3 idiot…film pendidikan yg baik…menurut saya..:)

klo kita lihat di jerman dan perancis, banyak institusi yg membiayai riset penemuan baru utk industri mereka, mereka memberikan beasiswa utk anak2 yg kepalanya bagus istilah mereka, utk melakukan riset dan pemikiran yg di luar kebiasaan anak2 sekarang.
dengan mhs yg mempunyai pemikiran/inovasi yg bagus, hal2 baru yg mempunyai nilai ekonomi tinggi maupun nantinya akan menjadi bahanpemikiran lebih lanjut, akan di kuasai oleh mereka.

jerman selalu memberikan beasiswa s2 utk negara2 berkembang, dimana banyak anak2 pandai yg bisa meneliti bersama profesornya hal2 baru yg bisa di pakai oleh industri mereka dalam memenangkan persaingan dunia. kita lihat jerman adalah kampiun eksport barang2 jadi, indonesia kampiun eksport barang mentah bersama australia. dan negara lainnya.
indonesia mempunyai 40 orang terkaya, kebanyakan mereka dari industri rokok, batubara, minyak dan sawit ataupun menjadi agen penjualan dari negara2 maju.
belum terlihat dari mereka yg kaya karena manufaktur atau produk2 nya mendunia, kecuali jamu…itu pun pemiliknya ndak masuk 40 orang kaya indonesia…
balik ke lap top, utk urusan pendidikan yad, suatu pemikiran awal saja…mungkinkah slta itu 1 jurusan saja ya sma tanpa IPA dan IPS, sehingga semua di ajar dengan ilmu yg sama, dan masing2 sekolah mempunyai keunggulan sendiri2…kita bukan jaman belanda yg memisahkan sma a,b,dan c, yg di belanda sendiri sdh tidak dipakai, dan sekarang selalu berubah terhadap jaman, pas, pal sos kmdn paspal dan sos bahasa dan sekarang penjurusan di tahun ke 3 di slta, dan sekarang masuk pt nya testingnya mulai pakai tpa dll.
saya ingat ada jurusan pas pal dan sos, tetapi teman2 ku yg sos banyak yg berhasil hidupnya, dan yg pas pal tidak semuanya berhasil…ini pengmatan pribadi, karena berhasil dalam kehidupan ini tidak di dasarkan pas pal dan sos saja, tetapi sosial skill yg perlu dikembangkan di indonesia, atau didunia; dimana kemampuan berkomunikasi verbal, dgn sesama, atasan maupun bawahan bisa dikembangkan dan di mulai disekolah.

dalam perkembangan abad sekarang , dimana seseorang bisa mudah belajar apa saja melalui internet, penjurusan di sma menurut saya sdh tidak relevan lagi, tetapi pengetahuandankemampuan  berkomunikasi dalam 2 – 3 bahasa dan mempraktekkannya dgn baik serta kemampuan mengakses informasi utk bisa belajar sepanjang hayat itu yg penting. penting sekali adalah mereka tahu buat apa sekolah…..

coba anda tanya 10 siswa slta anda, tanya buat apa sekolah ? separuh dari mereka menjawab tidak tahu/disuruh orang tua/drpd nganggur tidak ada motivasi dari dalam …ada yg perlu kita sempurnakan dan tanamkan dalam pendidikan ini, yaitu setiap anak harus di pompa atau di dorong agar mereka tahu buat apa sekolah, ini yg akan memotivasi mereka utk belajar sesuai dgn yg diperlukan dan mereka perlukan.
Dengan mereka tahu dan senang akan sesuatu bidang, dgn peluang mencari info sebanyak mungkin di internet, mereka akan mendapatkan ilmu jauh di atas yg kita perkirakan dan bahkan melebihi SPM, standar pelayanan minimal pendidikan., dan mereka bisa mengkompilasikan serta menganalisa dan belajar memutuskan mau kemana dan berbuat apa mereka yad.

Yg perlu ditanamkan selama pendidikan , mereka harus tahu mau kemana, utk itu mereka harus mencari kemana, dan bgmn utk melewati persaingan yg keras, bila tempat nya hanya tersedia sedikit utk bidang tersebut. atau mencari hal yg sejenis..sesuai dgn keinginan mereka.
karena klo siswa belajar dgn hati dan tahu apa yg akan di capai …pengetahuan dan skill nya akan cepet sekali pencapaiannya tanpa harus ada ulangan umum setiap semester…:)

so jadi gimana kalau kita mulai tidak ada jurusan di SMA …:) sekolah mana yg berani mencoba …? tapi siswa tahu betul buat apa mereka sekolah dan masing2 mempunyai cita2 yg tinggi, sehingga nila2 yg baik bisa kita tanamkan, misalnya jujur, tidak nyontek, dapat 3 bukan suatu yg memalukan, berani berdeat yg baik, kalau di beri pertanyaan balapan menjawab..(klo sekarang murid ditanya, pasti balapan nunduk agar tidak di tunjuk utk menjawab…:))

kalau pendidikan basicscience bisa kita ajarkan dengan menyenangkan slah satunya melalui game yg menyenangkan, karena anak2 sekarang klo main game 3 – 5 jam tidak terasa, tapiklo belajar matematika 1 jam sudah gerah,  klo  kita buat game matematika, kan menyenangkan , tahu2 anak kita tahu ttg teori dan bgt ujian lulus, krn pengetahuan dan latihannya didapat dari main game…:) , kita sedang mencoba mengembangkan dari sd sd sma game utk science …
memang perubahan tidak bisa drastis, harus bertahap, karena konsekwensi nomenklatur, ujian nasional , guru, dll akan berdampak luar biasa….thd anggaran dan masyarakat….tapi kan kita tahu semua dunia juga berubah dgn cepat…dan kelompok tertentu yg berfungsi sbg matchmaker , trendsetter maupun follower..;  berapa % anak2 kita akan kita didik menjadi 3 hal tersebut..? 80 % jadi folower, bila mereka tidak lulus pt..?

kita lihat asia saja, korea apk pt 83,5 % dgn gnp 20 ribuan us $, indonesia apk pt 22 % an dgn gnp 3 ribuan us$,  klau makin banyak yg bisa kita masukkan dlm pt yg bermutu, dimana pt tersebut  beraliansi dgn pt  negara maju, saya yakin pelan2 kita akan dapat mencetak sdm yg berkualitas dan tidak mengirim TKW/TKI jenjang rendah, dan bisa mempunyai industri sendiri utk keperluan sendiri maupun regional.

selamat berfikir dan berjuang utk kebaikan anak2 kita..dimasa mendatang…bgmn? mau bergabung atau mulai perubahan dgn highschool dunia yg murid2 nya siap kemanapun juga…? dan meningkatkan kemampuan mereka setinggi mungkin…? ataukah kita senang mencetak banyak  penganggur ..?

mari membangun generasi Indonesia yad lebih baik lagi, yg mengurangi dan memperbaiki sifat2 yg jelek dari 100 sifat orang indonesia versi detik.com

ini adalah pendapat pribadi yg mencoba menjawab dan mencari solusi dari salah satu sifat orang indonesia, yg di umumkan oleh detk com
tulis pendapat anda ya..bila ada yg tidak berkenan mohon maaf….terimakasih….

Iklan

20 Tanggapan

  1. ipa maupun ips jika didalami bener2 pasti akan menghasilkn output yg sama2 berkualitas..
    info menarik.. trima kasih ..

  2. Alhmd tambah informasi,
    Kalau saya (waktu itu sebagai murid) ditanya kenapa masuk smk jawabnya lulus smk bisa langsung kerja. Jika masuk sma harus meneruskan lagi ke jenjang kuliah.
    Jadi sepengetahuan orang tua menanamkan pendapat mereka ke anaknya tentang sma dan smk demikian. Orientasi pasca kelulusan smk gampang cari kerja dan kalau sma harus kuliah lagi.

    Yg jadi pertanyaan pak, kalau di sma tidak ada jurusan, berarti harus di sinergikan dengan PT ya, karena di spmb setahu saya ada beberapa yang menyaratkan jenjang sma ipa/ips.

    Terimakasih.

  3. Menarik pembahasannya pa GHP, ada pertanyaan mendasar juga yg harus dibahas :
    1. Siapkah SMA tanpa IPA/IPS/Bahasa? misal jawabnya SIAP
    2. Warga SMA kemudian akan bertanya : akankah sama kesempatan yg diberikan PT kepada warga SMA, jika kemudian melanjutkan ke PT?
    Intinya, selain mencari SMA yg sanggup berubah, maka harus mencari juga PT yang mau berubah.
    Klo sudah ada penelitian ttg realita pemilihan jurusan IPA/IPS/Bahasa di SMA dgn penelusuran lulusan yg melanjutkan/bekerja, mungkin akan menguatkan/melemahkan keinginan perubahan ini.
    Sukses atas ide2-nya pak …

  4. Pendapat saya pak, penjurusan IPA/IPS di SMA merupakan pengkotak-kotakan yang terlalu dini, karena siswa bisa saja berubah di tahun kedua atau ketiga. Ada siswa yang lambat untuk panas, tetapi begitu panas larinya kencang. Ada siswa yang cepat panas, tetapi cepat letih dan jenuh. Kasihan anak yang tidak masuk dalam IPA, karena sudah dibatasi untuk tidak bisa masuk bidang tertentu di perguruan tinggi, padahal belum tentu dia tidak sanggup.
    Kalau jurusan di SMA ditiadakan, perguruan tinggi kan ga punya pilihan, pasti mengikut dan akan memberi kesempatan kepada semua lulusan, biar test yang menyeleksi.

    Saya sendiri mengalami sendiri. Saya lulusan SPG yang kini sudah tidak ada lagi, dan sekolah yang lulusannya paling tidak dianggap untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Kuliah masuk jurusan pendidikan bahasa Inggris, dan teman-teman kuliah saya kebanyakan dari SMA jurusan IPA. Dalam perkuliahan di semester 1, ada mata kuliah IAD (Ilmu Alamiah Dasar) yang bagi saya ga pernah pelajari hal itu di SPG. Tidak bermaksud merendahkan teman apalagi menyombongkan diri, nilai saya paling tinggi di mata kuliah ini. Di mata kuliah lainnya pun, saya tidak lebih jelek dari mereka.

    Harapan saya, mudah-mudahan kita bisa belajar dari negara yang sudah maju sistem pendidikannya seperti diuraikan pak Gatot. Terima kasih.

  5. kembali ke sisdiknas kita pak (pembuat kebijakan) kalo sistem nasional pendidikan kita sepertinya memang masih mengkotak2kan. kalo dimulai dari sekolah, bisa2 sekolah tidak terakreditasi krn ga sesuai dg standar isi. dan sepertinya itu bisa diterapkan pada sbi yg standarnya internasional, bkn standar nasional. yg jd pertanyaan juga standar internasional itu acuannya apa? United Nation? Unicef? ato negara luar? US? Jepang? Jerman? Australia? 🙂

  6. Assalamu’alaikum pak Gatot… sy sependapat dgn bpk, sebaiknya di SMA tdk perlu penjurusan lg, toh setelah lulus tdk semua dpt trserap di perguruan tinggi ato memilih fakultas yg sesuai dgn jur wkt di SMA. Sy lulusan SMA jur IPA, brikutnya msk perguruan tinggi agama, melanjutkan S2 ke kependidikan umum, dan S3 ke pend. teknologi dn kejuruan. Sy bnyk belajar otodidak ttg manajemen dn leadership, krn ketertarikan sj.
    jd mrt sy, yg paling penting kpd siswa dibekali bgm kterampilan “belajar untk belajar” agr mrk sll belajar dr pembelajaran hidup yg mrk lalui. keterampilan spt itu trmsk vokasi. artinya, penting pd siswa SMA diberikan pembelajaran vokasi, dn itu bs dilakukan dgn mengintegrasikan kurikulum mata pelajaran umum dlm mata pelajaran kejuruan atau menempelkan (embedded) mata pelajaran kejuruan/vokasi pd mt pel umum. Bgm mnrt pak Gatot?

  7. menarik banget pak, dari tadi saya nyimak terus, ..
    cerah sekali…

  8. Thanks infonya ya..

  9. Suatu sistem bukankah tidak bisa di ubah pada satu bagian tertentu saja pak? jika memang harus terjadi penyempurnaan, maka bagian sebelum dan bagian sesudahnya juga harus ada penyesuaian? . Dulu kalo saya ditanya untuk apa saya sekolah, jawabnya sederhana saja: supaya pinter. Kalo sekarang ditanya, jawabnya tetap : supaya pinter. Dengan banyak tinjauan saya setuju jika di sma tidak ada jurusan ipa atau ips sebab setelah lulus sma toh suka-suka pilih jurusan di PT ( di sma saya jurusan ipa, kuliah di PTN-D3 ekonomi, PTN-S1 Matematika, PTN-S2 elektro) , tujuan saya: supaya pinter.

  10. Pa Gatot, saya akan memulai merealisasikan ide bapak. Saya akan melakukan pendekatan kesmua pihak untuk mewujudkan itu.
    Akan saya susun kurikulumnya.
    Tunggu saya akan menyelesaikannya.
    Jika udah selesai, tar saya informasikan ke bapak
    Makasih dan minta dukungannya

    • p ahmad, silahkan diskusikan dengan tim anda dan mata pelajaran mana saja yg perlu di kembangkan, sehingga siswa kita mendapatkan hal2 yg terbaru…..selain itu mereka harus lentur terhadap perubahan yg terjadi di masyarakat agar mereka tidak tergerus oleh zaman…selamat mencoba…dan berkreasi…

      • kurikulum sedang dalam penyelesaian.
        SMA ini kami beri nama SMA LIFE SKILLS dengan beban belajar 50 jam/minggu yg terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok mata pelajaran 34 jam dan life skill 16 jam.
        rencana th pelajaran 2011/2012 akan dibuka.
        sehubngan SMA yg sudah ada tidak berani berinovasi maka kami akan mendirikan sekolah baru dan pokok permasalahannya kami perlu legalitasnya. Mohon solusinya

  11. p achmad, salah satu solusi, bergabung dengan seamolec dan kita bikin sma model tapi sebanyak mungkin memanfaatkan it, cek bordeless scholl..

    • pa gatot, kan opini awal bapak akan meniadakan SMA ipa vs ips. Dan menciptakan SMA yg memiliki kecakapan hidup. Saya merespon ide itu.
      makanya saya menyusun kurikulum yg berbasis life skill dan sekarang kurikulum udah tersusun.
      untuk seamolec tentu akan menjadi bagian dari sistim pengajaran di SMA life skill dan sangat mendukung program pengajaran.
      saya kira SMA life skill merupakan inovasi baru dlm pendidikan kita. Mengingat mempunyai dua sisi arah tujuan siswa, .yaitu bisa bersaing ke SNMPTN dan bersaing juga ke dunia industri/wirausaha.
      Jadi harus gimana nih ….

    • apakah ide bapa meleburkan ipa vs ips hanya sampe disini saja?
      gagasan yg hanya sebatas gagasan hanya sia-sia saja.
      mari kita wujudkan dengan antusias kesungguhan.
      Insya Allah pendidikan kita lebih maju

    • Pa gatot, jadi ga meleburkan jurusan ipa vs ips?

      • lho klo uurusan melebbur dan tidak itu urusan pusat kurikulum mas…tapi ide dan wacana harus kita gurulirkan utk memulai suatu moodel..

  12. oooo yo wis ………
    puskurnya juga ga mendengungkan
    matur nuwun boss

  13. Kriteria Penjurusan di SMA : Kepentingan Ilmiah versus Kepentingan Lembaga
    oleh Ade Fathurahman pada 23 Juni 2011 jam 9:07

    Proses penjurusan di satuan-satuan pendidikan tingkat SMA dan aliyah masa yang lalu dan saat ini berjalan sedemikian mulus, sehingga tidak banyak pembaharuan-pembaharuan yang signifikan.Wajar, karena pada beberapa dekade belakangan ini proses pemutusan suatu kebijakan yang berkenaan dengan jurusan di SMA dan Aliyah masih diskriminatif, contohnya tiadanya anggaran yang diperuntukan untuk Laboratorium Rumpun IPSl, seperti pada laboratorium Rumpun IPA dan Bahasa.

    Pertanyaan-pertanyaan yang muncul kemudian adalah : apakah penjurusan selama ini sudah mengacu kepada peraturan yang diputuskan oleh Dirjen yang membawahi satuan-satuan pendidikan SMA dan Aliyah (saat ini Dirjen Dikdasmen) ; apakah sosialisasi informasi tentang jurusan kepada siswa/i di satuan-satuan pendidikan SMA dan Aliyah sudah bisa dikatakan cukup, atau sebaliknya ; apakah pengambilan keputusan di Sma dan Aliyah dilakukan dengan mempertimbangkan ketuntasan siswa pada mata pelajaran ciri khas jurusan : apakah pilihan jurusan mempertimbangkan hal lain, selain rasio keberadaan guru dengan jumlah jam mata pelajaran yang ada di satuan pendidikan dan beberapa pertanyaan lain yang relevan.

    Pertanyaan utama yang urgen berkenaan dengan pertimbangan-pertimbangan konstitusional adalah : “Sudahkah proses penjurusan di SMA dan Aliyah saat ini mengacu kepada panduan yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikdasmen ?”

    Pertanyaan kedua yang muncul kemudian adalah : apakah para guru yang terlibat sudah memahami dan melaksanakan panduan penjurusan sesuai dengan yang diputuskan Dirjen Dikdasmen ?

    Hasil survey, berdasarkan wawancara mengindikasikan bahwa proses yang dilaksanakan pada kebanyakan satuan pendidikan SMA atau Aliyah lebih didasarkan pada kuota guru, bahkan tidak terlalu memperhatikan panduan yang telah dikeluarkan Dirjen Dikdasmen. Keadaan ini diperparah dengan ketidak pedulian pada ketuntasan yang telah dimiliki siswa, sehingga muncul fenomena siswa/i IPA, maupun IPS yang belum tuntas atau tuntas sebatas KKM saja. Keadaan ini diperparah dengan orientasi yang salah tentang jurusan pada siswa/i, sehingga menghasilkan kinerja siswa/i yang rendah disemester selanjutnya.

    Terlepas dari fenomena diatas, berdasarkan pada Lampiran SK Dirjen Mandikdasmen No. 12/C?Kep?TU/2008, 12 Pebruari 2008 tentang Penduan Penyusunan Laporan Hasil Belajar (LHB) Peserta Didik SMA (KTSP) Bagian E, Butir 1 s.d. 5. yang substansinya memerikan rambu-rambu operasional tentang dasar-dasar penjurusan di SMA dan Aliyah, diantaranya keharusan semua siswa yang memilih jurusan IPA/IPS/Bahasa untuk menuntaskan jmata pelajaran ciri khas jurusan (Fisika- Kimia- Biologi untuk IPA,Sosiologi- Ekonomi- Geografi untuk IPS dan B. Indonesia- B. Inggris untuk Jurusan Bahasa).

    Proses yang mengenyampingkan kecenderungan bakat akademik siswa, pada pembelajaran siswa sselanjutnya akan mempersulit perkembangan kedewasaan akademik siswa.Pada tataran orang dewasa/ guru, proses yang diskriminatif pada proses penjurusan mengindikasikan adanya penistaan terhadap lmu Pengetahuan yang kedudukannya universal dan harus dimulyakan oleh setiap pendidik.

    Wallaahu ‘alam

    • dear fman geografer, terimakaih masukannya, memang ini antangan bersama, tapi klo kita lihat secara menyeluruh, di dunia ini cuman ada selevel sma dan smk, nda di sma nya tidak ada penjurusan lagi…mungkinkah penjurusan di sma di tiadakan, karena dengan kemajuan teknologi, semua bisa di pelajari dengan cepat…dan terbukti anak2 ips bgt masuk it atau teknik di pt juga mampu…saya pikirr sih…pelan tapi pasti sebaiknya cuman ada 2 tipe sekooah ke juruan dan general..dimana di general semuanya di ajarkan…dan yg bahsa dan ips di gabungkan saja menjadi kejuruan…just ide dan mengamati apa yg trjadi di masyarakat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: