apakah kabupaten tertinggal pendidikannya harus tertinggal..?

hal ini selalu mengelitik pikiran kita, bila suatu daerah tertinggal atau terluar atau terdepan atau bahkan terdekat, tapi kalau daya beli rendah apakah pendidikannya juga harus tertinggal. suatu contoh suatu kabupaten di sumatra, masyarakatnya hanya mampu membiayai spp nya utk slta 25.000 di bandingkan dengan kota terdekat spp nya 100.000/bulan, kalau dilihat dari daya beli serta masyarakatnya , terlihat yg kota mempunyai peluang utk membayar lebih bahkan 4 x dari daerah tertinggal tersebut. Bagaimana dengan nasib anak2 kita yg tinggal di kabupaten yg tertinggal tersebut, apakah tidak boleh dan tidak bisa maju dibandingkan dengan mereka yg ada di kota dimana daya beli mereka relatif lebih tinggi..

menurut saya kok tidak adail, miskin itu tidak bisa pintar secara regional, mersti kita cari cara yg terbaik utk bisa menolong mereka yg kemampuan terbatas. apakah sekolah rsbi atau sbi ini lebbih baik dari yg tidak rsbi atau sbi…dari segi fasilitas mungkin iya, tapi dari segi semangat belum tentu..
salah satu cara menurut kita, adalah memberi kesempatan mengikuti standart tinggi yg sdh diterapkan oleh sekolah2 di kota besar…lkalau tidak mereka nantinya hanya jadi pelayan dari lulusan kota besar yg thu lebih banyak dari perkembangan ilmu, pekerjaan, tatakrama dll.
mungkin ini menjadi tantangan kita bersama, bgmn memandaikan mereka dari segi kesempatan yg terbatas, agar digital divide nya tidak terlalu besar gap nya. saya pikir tantangan yg menarik utk sekolah yg tertinggal utk bisa kita garap bersama dengan situasi yg baik dan asalkan sekolah2 yg ada disana mempunyai peluang ygsama…ayo kita buktikan ..dengan kondisi yg terbatas asal di fasilitasi dgn yg terjangkau dan tepat, anak2 daerah tertinggal ini tidak akan mengecewakan nantinya..
saya ingin mencoba daerah jabar, jateng dan jatim yg tertinggal dengan pola mengikut serta kan sekolah yg tertinggal , ulangannya akan menjadi lebih baik bila di persiapkan dengan baik.. jabar – purwakarta, subang, ciamis, cianjur dst ; jateng purworedjo, banyumas, batang, pati kab semarang, jatim situbondo, kota malang, kab malang, lumajang, jember, banyuwangi dan jembrana serta mataram utk bali. utk kota dan kabupaten tersebut kalau kita beri peluuang ulangan bersama ala seacyberclass apakah akan berubah ya perolehan nilainya..?dan makin banyak yg masuk ke pt lulusannya..

Iklan

6 Tanggapan

  1. ass. selamat pagi pak, jawabannya adalah tidak, yang perlu kita pikirkan bagaimana agar jawaban tidak itu bisa kita realisasikan. sekolah yang berada pada daerah yang ekonominya kurang maka partisipasi masyarakat dalam menunjang tujuan sekolah sangat terbatas (misal : untuk membeli peralatan praktek/ membeli bahan praktek) sangat terbatas, dengan kurangnya sarana dan prasarana ini lah yang menjadi hambatan para guru untuk bisa melatih siswa sesuai dengan standar yang ada (misalkan standar Ujikompetensi) disamping itu untuk melanjutkan mereka terkendala biaya. itu kenyataan yang ada di daerah terpencil..

    • betul, harus kita pikirkan bersama bagaimana anak2 daerah tertinggal tidak ketinggalan dalam pembelajarannya dibanding anak2 kota atau kabupaten yg maju, tinggal sharing dan sinergi yg harus terus kita tingkatkan agar anak2 kita makin maju di masa mendatang…

  2. pak mau tanya, apakah benar ada rencana kementrian pendidikan nasional (Kementrian pendidikan dan kebudayaan) untuk menerapkan sekolah gratis sampai tingkat SMK/MA/SMK ?? Melalui dana BOS ??

    • utk jumlah tertentu utk yg tidak mampu ada beasiswanya, tapi utk wajar 12 tahun memang di canankan dan ini akan di dorong setiap kabbupaten melakukan hal tersebut., utk gratis ini yg tidak bisa kita tentukan ..

  3. Pandangan economic atau demografi merupakan padangan yang paling umum saat ini digunakan sebagai penilaian antar negara (HDI dll). sedangkan pandangan pendidikan masing-masing kabupaten lebih cendrung mengikuti pola pendidikan (pedagogi) dan budaya setempat lokal walau ada tuntunan dari pusat. Kedua hal ini sering berbenturan karena dukungan yang diberikan merupakan dukungan uang/modal kerja/pembangunan sebagai tolok ukur kinerja. sedang modal ketrampilan mengikuti modal tersebut (money follow function). Pendapat saya model ini banyak mempengaruhi pola pendidikan dan pengajaran yang di kembangkan.

    Pola-pola yang membetuk kreatifitas menjadi sangat sedikit jumlahnya dan pengembangan pendidikan berbasis kebutuhan dan budaya setempat menjadi terpinggirkan. Pola-pola yang mendukung penggembangan kreatifitas masing-masing kabupaten bisa mendorong kabupaten tertinggal untuk menggali potensinya masing-masing, karena menurut saya mereka unik satu sama lain dan itu kekayaan (kalo saya mengikuti pelajaran P4 dulu waktu SMP-Kuliah). Cara berpikir, budaya setempat, kondisi lokasi dll. IMHO (Pendapat sederhana saya).

    • betul p kris, justru bagaimana kita mendorong mereka agar tetep berpotensi utk di kembangkan secara optimal dan bersama-sama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: