virtual museum n sekolah virtual atau perpustakAan virtual yad

virtual museum n sekolah virtual atau perpustakAan virtual yad
(SUATU DIALOG DI LIBURAN PANJANG ANTARA TGL 17 – 20 MEI 2012 )

Terima kasih tambahan informasinya Pak Gatot. Saya tunggu alamatnya. Menyenangkan sekali kalau pendidikan berkualitas bisa lebih terakses lewat tkenologi. πŸ™‚

Ines Puspita
________________________________________
P hernowo n bu Ines dkk

Alamat web 3D nya

http://vmuseum.lskk.ee.itb.ac.id/

Ini baru prototype nya yg masih perlu dI sempurnakan terus menerus..

Percobaan sekolah model kita di mulai tahun ajaran baru..utk smp, sma dan smk secara bertahap..

Memang Akan terjadi perubahan dlm pembelajaran dan pencetak guruu di masa mendatang, serta fungsi guru mungkin bergeser dalam pembinaan karakter siswa kita, krn semua iinfo sdh masuk dlm tablet/disk. Soiswa bisa belajar dan mengulang sampai mengerti. Suatu topik bahasan..

Kenagan guru matematik galak, atau becanda dgn guru bisa nggak ada, satu sisi ada yg hilang ..

Tapi sisi lain siswa mendapat bbrp referensi yg terbaik atau cukup baik..Dan ini harus di bimbing dlm pendidikan karakter yg mememrlukan sentuhan tangan , elusan , amaraH, senyum dLl agar anak tsb tidak kering rohani nya..
Ini perkiraan saya pribadi lho…

Perhatikan di sekeliling kita, dimaNa anak2 sangat senag dan bisa duduk ber jam jam depan game..tanpa lelah dan jeda..ini hal yg tidak terlAlu baik..jiika terus menerus dilakukan..

It dan perangkat nya hanya lAh tool yg kita pakai utk membuat siswa lebih cepat memahami dan mengerti suatu proses melalui visual, suara serta pelatihan secara terus menerus dgn biaya yg murah, sehingga terjadi efisiensi waktu, sd, dll . Utk memahai satu pokok bahasan..

Hal ini sdh saya ungkapkan. Di hadapan asosiasi pendidik indonesia – yg isinya para rektor n profesor dr lptk..

Kita perlu merevitalisasi pendidikan kita dgn adanya perubahan dan munculnya multimedia baru yg buat nyaman anak2 didik kita..

Kita hrs mendidik guru yg melek dan bisa menggunakan tool it agar belajar lebih menyenangkan..

Iya di indonesia kan perlu proses dan kesabaran dlm menjelaskan suatu konsep baru, dan perlu pembuktian..

Dimasa mendatang UN itu bisa di ganti dgn ulangan umum digital bersama…dan lebih murah dan kita. Bisa melihat. Kwalitas siswa secara series..dlm 3 tahun..artinya ulangan yg tersentralistik dan dlm 1 tahun 20 x dan murah dan bisa se indonesia secara bersamaan..

Just ide di minggu pagi hasil kristalisasi kondisi terakhir it saat ini

Selamat liburan

PakPur pakpur@gmail.com
6)

Apakah guru-guru kita sudah siap memasuki dunia pembelajaran baru seperti ini?
Menurut saya ini faktor yang paling menentukan, terlebih untuk kondisi Indonesia. Saya justru lebih ingin tahu konteks pemetaannya. Bagaimana pemetaan kemampuan guru dan kemampuan untuk menularkannya.

Teknologi selalu membawa keuntungan psikologis dalam bentuk “rasa ingin tahu” ; sayang seribu sayang, kesenjangan penikmatan rasa ini bisa berbeda jauh antara guru (apalagi guru tua) dengan para siswa.

Kalo saya pribadi, wuah suenang sekali … yg saya bayangkan, batasan fisik sekolah akan mengabur dan saya akan ketemu dgn orang2 yg bener2 ingin belajar πŸ™‚

Salam
PakPur

hernowo_mizan@yahoo.com

+Kalo saya pribadi, wuah suenang sekali … yg saya bayangkan, batasan fisik sekolah akan mengabur dan saya akan ketemu dgn orang2 yg bener2 ingin belajar πŸ™‚

-Inilah yang harus segera disebarkan kepada baik para guru yang muda maupun tua. Kesenangan ini sangat penting. Jika hati kita senang, tentulah kegairahan dan, insya Allah, rasa ingin tahu akan bermunculan secara luar biasa.
Sudah lama kita “tertekan” ketika menjalankan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dunia virtual akan membebaskan kita dari segala bentuk “ketertekanan”. Semoga.
Salam,

Apakah guru-guru kita sudah siap memasuki dunia pembelajaran baru seperti ini?

Menurut saya ini faktor yang paling menentukan, terlebih untuk kondisi Indonesia. Saya justru lebih ingin tahu konteks pemetaannya. Bagaimana pemetaan kemampuan guru dan kemampuan untuk menularkannya.

Teknologi selalu membawa keuntungan psikologis dalam bentuk “rasa ingin tahu” ; sayang seribu sayang, kesenjangan penikmatan rasa ini bisa berbeda jauh antara guru (apalagi guru tua) dengan para siswa.

Kalo saya pribadi, wuah suenang sekali … yg saya bayangkan, batasan fisik sekolah akan mengabur dan saya akan ketemu dgn orang2 yg bener2 ingin belajar πŸ™‚

Salam
PakPur

Pada 20 Mei 2012 06:26, hernowo hasim menulis:

+Ssuatu saat kalau ada sekolah sma virtual , sekolah hanya utk olah raga, nyanyi, main musik, debat dan diskusi dan ulangan bersama..sisanya virtual 3 D, cuman nggak bisa salaman..

-Terima kasih sekali atas informasi ini Pak Gatot. Kapan-kapan ingin sekali saya “mencicipi”-nya. Kita sudah harus siap-siap memiliki sikap mental baru nih dalam menghadapi perubahan-perubahan baru di dunia pembelajaran sebagaimana yang Pak Gatot tunjukkan. Apakah guru-guru kita sudah siap memasuki dunia pembelajaran baru seperti ini?
Salam,
Hernowo________________________________________

Bu ines dan p hernowo dkk,

Utk museumvirtual prototype nya sdh jadi, barusan aku cek dgn nanang yg mengerjakan thesis s2 nya ..juni akan di presentasikan..dimana objek nya museum geologi bandung..

Barusan aku lihat dalam lab game tech ITB, menarik tim yg mengejar target thesis.akhir mei..

Tapi prototype nya bisa dilihat

Di..aku lupa nama web nya…

Nang apakah bisa di sharing alamat museum geologi 3D, versi beta..? Terimakasih..

Vmuseumgeologi.lssk….?

Ssuatu saat kalau ada sekolah sma virtual , sekolah hanya utk olah raga, nyanyi, main musik, debat dan diskusi dan ulangan bersama..sisanya virtual 3 D, cuman nggak bisa salaman..

Prototype. Utk sma/smk dan smp. Akan kita coba juli tahun ini..

Utk animasi/fesyen atau jurusan tertentu kita coba sebanyak mungkin virtual pembelajaran nya agar makin banyak yg bisa belajar..termasuk kuliah dr prof iwan ITB matematika, yg mendorong penalaran di kembangkan pada anak2 kita..

Ayo kita kerjakan paralel saja barengan ..

Selamat liburan..

Gatothp

Pak Hernowo,

Saya yang berterima kasih sudah diberi tanggapan oleh Bapak. Senang bisa memiliki teman yang sama-sama mengeksplorasi ide ini. Tentu saya masih ingat perihal connectivism , Pak Hernowo. Menurut saya ulasan Bapak bahkan lebih comprehensif dibandingkan dengan ulasan saya.

Mengenai perpustakaan virtual, terima kasih tanggapan positifnya Pak Hernowo. Dunia virtual itu hanyalah platform komunikasi. Platform dunia virtual memungkinkan kita berkomunikasi lewat test, suara, video, gerak tubuh, raut wajah, serta lewat kreasi/obyek virtual yang bisa kita baus sendiri atau secara kolaborasi. Karena platform 3D ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki platform 2D, terutama dalam hal “immersiveness”, maka paltform ini memiliki potensi yang lebih besar lagi dibandingkan dengan platform 2D seperti website. Jadi, karena ini paltform yang bisa kita gunakan untuk tujuan apa saja, maka apa yang Pak Hernowo sebutkan akan menjadi relevan dan bisa dilaksanakan sebaik pelaksanaannya di dunia fisik/non virtual. Termasuk di dalamnya adalah ide membaca, menulis, dan perpustakaan (bahkan sudah ada toko buku virtual 3D) Selain kelebihannya, daya tarik utama dati teknologi dunia virtual adalah minimnya biaya yang diperlukan untuk membuat representasi dengan jangkauan audience yang sama. Minimnya biaya inilah yang membuat banyak univeristas terutama yang memiliki program distance learning untuk memanfaatkan teknologi ini.

Banyak sekali yang ingin saya diskusikan dengan Bapak berkenaan dengan teknologi ini, tidak terbatas virtual library, tetapi juga pelatihan guru, konferensi guru, dll secara virtual. Semoga suatu saat saya punya kesemaptan untuk bertemu dengan Pak Hernowo, dkk.

Ines Puspita

Dikirim: Jumat, 18 Mei 2012 18:16
Judul: Untuk Mbak Ines…Re: Bls: [IGI] Bayerische Staatsbibliothek Jerman

Mbak Ines, makasih untuk yang kedua kalinya. Terima kasih pertama pernah saya lontarkan kepada Anda ketika memberi tahu saya ihwal “connectivsm”. Masih ingat? Itu mengubah paradigma saya tentang belajar (berlatih) dan mengajar (melatih). Saya kemudian mengonsepkan rumusan baru pelatihan menulis dengan menekankan pentingnya psikologi (sikap mental) baru terkait dengan semua itu.
Kini, saya mendapatkan wawasan baru–semoga ke depan juga dapat mengubah paradigma saya–tentang perpustakaan virtual. Hingga kini, saya masih pesimis akan kegiatan membaca (dan menulis) di dunia virtual. Saya coba cari data apakah e-book atau teks digital mampu membangkitkan minat membaca masyarakat?—sampai sekarang belum ketemu data yang memuaskan saya.
Tapi postingan Mbak Ines ini meyakinkan saya tentang peran dunia digital dalam merangsang minat membaca. Saya pun menjadi optimis. Semoga ke depan saya dapat menemukan sesuatu–entah apa–dalam pengembaraan saya (lewat bantuan menulis) hal-hal penting terkait konsep-konsep membaca di dunia virtual.
Salah satu yang terlintas di benak saya saat ini adalah, pertama, kita saat ini tak perlu membanding-bandingkan antara belajar dengan melihat langsung realitas (pergi ke Borobudur) dengan melihat Borobudur di dunia virtual.
Kedua, tatap muka dalam belajar–baik dengan guru, buku, objek, dll.–tak lagi penting. Kita harus mengubah pikiran (persepsi) kita.
Ketiga, berkat dunia virtual, kita bisa belajar di mana dan kapan saja. Bahkan, yang menakjubkan, dengan bantuan dunia virtual, kita bisa tidak terkendala mood, malas, ogah-ogahan, dan semacamnya.
Sekali lagi, makasih Mbak Ines.
Hernowo

Iya Pak Gatot,

Senang sekali ada yang memikirkan ini. Dalam hal perpustakaan, kolaborasi fisik benar2 sangat mahal. Kalau perpustakaan ingin mendekatkan diri ke pengguna, biayanya mahal. Semoga dengan adanya perpustakaan virtual yang bisa dibangun dengan biaya minim, dan warnet yang bisa diakses di mana-mana, perpustakaan virtual Indonesia bisa terwujud. Kalau replika borobudur di dunia virtual sudah ada. Lumayan detil untuk bisa dipakai sebagai sumebr belajar.

Salam.

Ines Puspita
Deutsche Internationale Schule
________________________________________
Dari: Gatot Hari Priowirjanto
Kepada: ikatanguruindonesia@yahoogroups.com; staff SEAMOLEC ; Bagiono Djokosumbogo
Dikirim: Jumat, 18 Mei 2012 14:15
Judul: Re: [IGI] Bayerische Staatsbibliothek Jerman

bu ines dkk
cerita yg menarik, alangkah indahnya, klau semua perpustakaan tersambung jadi satu dan saling sharing isnya…makin banyak anak2 pandai melalui program ini…

p bag, bgmn program virtual perpustakaan kita bisa kita klembangkan bersama dgn bu ines..?

ghp
2012/5/18 Ines Puspita

Berikut tulisan pengalaman saya belajar mengenai dinamika perpustakaan virtual di perpustakaan virtual yang merupakan representasi resmi dari Bayerische Staatsbibliothek – Perpustakaan negara bagian Bavaria yang merupakan perpustakaan tertua berumur 450 tahun di Munchen, Jerman.

http://inesogura.weebly.com/2/post/2012/05/bayerische-staatsbibliothek.html

Semoga bermanfaat dan bisa digunakan sebagai sumber dan tempat belajar berbiaya rendah oleh anak-anak Indonesia.(hanya perlu akses internet)

Ines Puspita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: